<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Domestifikasi's Blog</title>
	<atom:link href="http://domestifikasi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://domestifikasi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 08:14:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='domestifikasi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Domestifikasi's Blog</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://domestifikasi.wordpress.com/osd.xml" title="Domestifikasi&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://domestifikasi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2010/06/18/amir-sjarifuddin-antara-negara-dan-revolusi/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2010/06/18/amir-sjarifuddin-antara-negara-dan-revolusi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 08:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Demokrasi,Postmodern,Sosial<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=38&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat buku ini terbit, baik tokoh yang dibicarakan maupun pengarangnya, telah meninggal. Amir Sjarifuddin meninggal tahun 1948, menyusul Peristiwa Madiun yang melibat dirinya. Ia meninggal dalam arus revolusi yang bergerak begitu cepat, melebihi kemampuan tiap-tiap orang untuk menangkap apalagi mengarahkannya. Seperti ditulis Abu Hanifah ketika menutup tulisannya tentang tokoh ini dalam majalah <em>Prisma</em>, &#8220;Revolusi memakan anaknya sendiri&#8221;.<span id="more-38"></span>Selanjutnya&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Jejak langkah Amir Sjarifuddin sudah berulangkali berusaha ditulis orang, tapi selalu saja terasa kekurangannya di sana-sini. Menulis tentang tokoh kontroversial seperti Amir memang bukan barang mudah. Mengambil satu aspek saja dari dirinya berarti melupakan aspek lain. Melihatnya sebagai seorang Kristen yang taat saja, dan menelusuri seluruh perjalanannya dari perspektif ini, akan membuat kita kedodoran memahami sikap politiknya yang radikal sebagai &#8220;anak revolusi&#8221;. Di pihak lain, melihatnya hanya sebagai politisi radikal, pemimpin Partai Sosialis (dengan segala kekeliruan dan kekacauan tentang paham dan partai ini di zaman sekarang), juga tidak akan membuahkan apa-apa. Apalagi mengingat perjalanan politiknya tidak hanya dituntun oleh pikiran, tapi lebih oleh pergolakan dalam masyarakat sezaman.</p>
<p>Mungkin paling baik jika kita menempatkannya kembali dalam zamannya; membiarkan dirinya tampil melalui pikiran dan tindakannya dalam sejarah.</p>
<p>Jacques Leclerc, meninggal bulan April 1995, setelah mengidap kanker ganas dalam tubuhnya selama bertahun-tahun. Ia juga sosok kontroversial dalam bidangnya, seorang penulis yang tidak kenal lelah dalam memahami proses revolusi yang rumit dan berliku.</p>
<p>Jacques mengerahkan banyak tenaganya untuk meneliti dan menulis tentang kurun yang sulit dan penuh perdebatan, yakni revolusi Indonesia. Ia menjadi kontroversial karena cara pikir dan tradisi yang dibawanya tidak lazim dalam studi tentang Indonesia. la gemar membandingkan kehidupan politik di tahun 1940-an dengan kisah-kisah revolusi Prancis yang sangat akrab baginya, dan menyumbangkan tradisi penulisan sejarah Prancis yang kaya dalam wilayah studi ini.</p>
<p>Sejak tahun 1970-an is mulai menulis tentang gerakan rakyat tahun 1940-an, dan di situlah ia menyelami kehidupan Amir Sjarifuddin. Sepagi 1982 ia sudah menulis biografi Amir Sjarifuddin, dan sejak itu terus membuat penelitian tentang pemikiran dan perjalanan hidup tokoh ini. Tulisan di hadapan ini lebih sebuah renungan tentang Amir ketimbang tulisan ilmiah yang menyajikan fakta dan interpretasi dalam langgam yang ketat. Mungkin sekali bukan yang terbaik, tapi di sinilah ia mengerahkan pengetahuan dan kepiawaiannya dalam menulis, untuk mengambil kesimpulan yang cerdas tentang seorang manusia, lingkungan dan zamannya.</p>
<p>Januari 1996</p>
<p><strong>I</strong></p>
<p>TANGGAL 19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di dekat desa Ngalihan, Amir Sjarifuddin ditembak dengan pistol pada kepalanya oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam Angkatan Bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang penduduk desa setempat diperintahkan menggali sebuah lubang kubur besar. Dari rombongan sebelas orang yang diangkut dengan truk dari penjara di Solo, Amir orang pertama yang dieksekusi malam itu. Beberapa hari sebelumnya ia, dan beberapa orang lainnya lagi, secara diam-diam telah dipindahkan ke rumah penjara ini dari tempat penahanan mereka di Benteng Yogyakarta.</p>
<p>Pada malam itu juga Polisi Militer berkeliling ke rumah-rumah penjara besar, yang masih bisa mereka datangi, khususnya di Magelang dan Purworejo, untuk meneruskan rencana eksekusi-eksekusi mereka. Perintah pembantaian itu turun langsung dari mantan kepala satuan khusus tersebut, Kolonel Gatot Subroto, yang pada 17 September 1948 telah diangkat sebagai Gubernur Militer Surakarta. Barangkali Gatot takut, bahwa para tahanan akan memanfaatkan keadaan untuk melarikan diri, seperti yang memang telah terjadi di rumah penjara di Yogyakarta. Seperti diketahui, pasukan payung Belanda telah diterjunkan di Yogyakarta pada pagi hari sebelumnya, dan segera menduduki daerah ini.</p>
<p>Kalangan dekat dengan para korban eksekusi mengatakan, bahwa tanpa jaminan atasannya Gatot tidak akan mungkin berani mengambil prakarsa sendiri, membunuh tokoh seperti Amir, seorang mantan perdana menteri dan juga menteri pertahanan selama lebih dua tahun. Oleh karena itu tuduhan lalu mereka lempar kepada perdana menteri pengganti Amir saat itu, yaitu Mohammad Hatta. Desas-desus juga beredar, yaitu tentang sidang kabinet terakhir sebelum Yogyakarta diserang Belanda, yang disusul dengan peristiwa penangkapan Sukarno, Hatta dan beberapa tokoh negara lainnya. Konon pada sidang kabinet tersebut juga dibicarakan nasib Amir dan tawanan-tawanan sesama lainnya, yang pada saat itu masih ada di Yogyakarta; dan bahwa Sukarno menentang keras dijatuhkannya hukuman mati secara sumir. Karena itulah, di luar pengetahuan Sukarno, mereka itu diserahkan kepada Gatot. Barangkali ini merupakan sebuah rekonstruksi, sengaja untuk membebankan seluruh tanggungjawab atas apa yang terjadi pada pundak Hatta sendiri. Notulen sidang kabinet itu, seandainya pernah ada, sampai sekarang tidak pernah ditemukan. Tetapi bagaimanapun juga, jika pembicaraan tentang nasib mereka itu memang pernah terjadi di dalam sidang tersebut, kiranya tidak akan termasuk sebagai bahan yang boleh disiarkan.</p>
<p>Ketika Gatot meninggal mendadak tahun 1962, sekali lagi terdengar kabar burung tentang apa penyebabnya. Sejak malam di bulan Desember 1948 itu, ia terus-menerus hidup dalam bayangan rasa takut terhadap pembalasan. Sementara orang bahkan mengatakan: bayangan rasa sesal yang mendalam. Tetapi semuanya patut kiranya diragukan.</p>
<p>Gatot telah diangkat sebagai dewa pelindung dari sistem, yang telah disusun sejak Oktober 1965, di bawah pimpinan Jenderal Suharto. Pada bas-relief untuk memperingati kemenangan ABRI atas kaum komunis, yang merupakan bagian sentral dari sebuah monumen simbolis yang dibangun di Lubang Buaya pada awal tahun 70-an, Gatot dan Suharto digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang sejajar dan dalam pose yang sama pula. Di tengah-tengah kemelut politik ini sebelas makam di Ngalihan, yang dalam bulan November 1950 telah digali oleh keluarga masing-masing, dan yang setelah diautopsi dimakamkan kembali, semuanya hilang tanpa bekas. Bahkan ketika majalah <em>Prisma</em> pada hari ulang tahun Amir Sjarifuddin ke-75, dalam bulan November 1982, menerbitkan ringkasan biografinya yang ditulis dengan sangat berhati-hati itu, Menteri Penerangan mengancam pembreidelan majalah tersebut. Disertasi Pendeta Frederiek Djara Wellem, di bawah bimbingan Pendeta Belanda Th. van den End, tentang pemikiran keagamaan Amir, <em>Amir Sjarifoeddin, Pergumulan Imannya Dalam Perjuangan Kemerdekaan</em>, yang telah berhasil terbit oleh penerbit Kristen Sinar Harapan tahun 1984, terpaksa harus dihancurkan ketika izin peredarannya ditolak pemerintah. &#8220;Saya ingin melihat sejauh mana yang bisa kita lakukan&#8221;, kata penerbit W.B. Sidjabat tentang naskah tesis itu setahun sebelumnya. &#8220;Kita ingin tahu, apakah sekarang sudah mungkin berbicara secara terbuka tentang Amir Sjarifuddin&#8221;.</p>
<p>Tesis Wellem yang mencerminkan pandangan sementara orang Kristen Indonesia, yang secara kebetulan mengenal Amir ini, melukiskan Amir sebagai semacam rasul. Justru karena cintanya kepada manusia, Amir menjadi terseret oleh godaan untuk menandatangani perjanjian dengan setan komunis, yang akhirnya ternyata harus ditebus dengan nyawanya. Dengan sangat emosional tesis itu bermaksud memulihkan nama tokoh yang dilaknat ini. Kiranya para pejabat yang telah menjatuhkan larangan terhadap buku itu tidak mungkin mengetahui lebih selain dari judulnya saja. Tetapi usaha untuk mengusir setan dari tokoh yang oleh Negara telah dinyatakan kerasukan, dan kemudian menjadikannya semacam Faustus politik ini, sudah merupakan langkah awal tindak subversi, jika Negara yang dimaksud di sini ialah negara yang dibayangkan Gatot dan Suharto.</p>
<p><strong>II</strong></p>
<p>MASA hidup Amir Sjarifuddin terentang sepanjang paruh pertama abad ke-20. Usia itu habis diserap oleh penemuan dan kegagalan harapan-harapan besar dari jamannya, seperti yang terungkap dalam kata-kata &#8220;kemerdekaan nasional&#8221;, &#8220;kedaulatan rakyat&#8221;, dan &#8220;sosialisme&#8221;. Seperti juga di mana-mana, di Indonesia pun, bagi barang siapa yang ambil bagian di dalamnya, semua kata-kata itu dipadatkan dalam sepatah kata saja: &#8220;revolusi&#8221;.</p>
<p>Amir, seperti beberapa pemuda Indonesia lain yang seangkatan dan sepergaulan dengannya, disadarkan tentang arti kata &#8220;revolusi&#8221; dan janji-janjinya, pertama-tama melalui apa yang dipelajarinya dari guru-guru Belanda mereka tentang Revolusi Prancis, ketika masih belajar di sekolah menengah dan sekolah tinggi hukum. Memang lebih banyak kepada Revolusi Prancis inilah, dan bukan revolusi-revolusi Amerika atau Rusia, ia selalu memalingkan pandangannya.</p>
<p>Bagi Amir &#8220;Prinsip Harapan&#8221; (meminjam kata-kata kunci Ernst Bloch) untuk Indonesia pertama-tama memperoleh bentuknya pada manifestasi tiga gabungannya: &#8220;satu nusa, satu bangsa, satu bahasa&#8221;. Rangkaian konsep-konsep ini didasarkan pada gagasan akademis Belanda tentang <em>Taal</em>-, <em>Land- en Volkerakunde </em>sebagai keseluruhan, dan diambil oleh para mahasiswa yang menamakan diri sebagai bangsa Indonesia, serta mengubahnya menjadi tuntutan Yakobin dalam tahun 1928. Tetapi &#8220;Prinsip Harapan&#8221; itu juga berfungsi lain. Sebagai sarana memasuki Indonesia yang baru saja dirumuskan, yang sepertinya sudah ada, bisa dimengerti dan diterima oleh semua, prinsip ini juga membentuk suatu labirin yang kabur dan goyah walaupun telah diberi contoh-contoh untuk meneranginya.</p>
<p>Sepanjang duapuluh tahun, 1928-1948, Amir telah membaktikan separuh umurnya kepada politik. Dan untuk itu ia pun harus menempuh sepanjang labirin, untuk menemukan jalan ke luar daripadanya. Namun tidak jarang harus menemui jalan buntu.</p>
<p>Bagi Amir labirin itu berbentuk permainan enam orang tokoh, yang satu sama lain saling berhadapan dalam pasang-pasangan yang selalu berubah-ubah. Ada pemain-pemain utama, yaitu Sukarno dan Hatta sebagai pimpinan golongan &#8220;partai nasional&#8221; (inilah yang dimaksud sebagai &#8220;Prinsip Harapan&#8221;), yang tertambat pada perjuangan tak terdamaikan untuk menguasai kendali. Sifat permusuhan persekutuan itu mengabadikan mereka dengan sebutan &#8220;dwitunggal&#8221;, sebagai suatu monumen sejarah yang tak bisa diganggu-gugat, simbol persatuan Indonesia yang tak terpisahkan, sejak mereka bersama menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.</p>
<p>Selanjutnya ada persekutuan-persekutuan yang masing-masing tersusun dengan pemain-pemain mudanya, yaitu Hatta dengan Sjahrir; dan, walaupun dengan cara yang kurang jelas benar, Sukarno dengan Amir. Ada lagi pasangan antara dua sesama pemain muda saja, yaitu Amir dan Sjahrir. Mereka ini hanya dihubungkan sebagai pasangan untuk para pemain utama, ketika empat pemimpin itu—ibarat empat pilar penyangga dunia—tampil sebagai lambang negara Indonesia antara November 1945 sampai Juni 1947. Tetapi terjadi juga formasi berbalikan: pemain muda yang kuat berpasangan dengan pemain tua yang lemah, yaitu Sjahrir sebagai perdana menteri dan Hatta sebagai wakil presiden. Dalam hal ini Amir sebenarnya sudah menjadi semacam &#8216;kartu mati&#8217;. Hatta dan Sjahrir praktis tak terpisahkan lagi sejak mereka pertama kali bertemu, dan mereka pun pernah tinggal bersama selama di pengasingan dari tahun 1934 sampai 1942. Tetapi Amir, bintang Partindo (Partai Indonesia) yang tengah marak itu, dijebloskan ke penjara ketika Sukarno, pimpinan partainya, dibuang ke pulau pengasingan seperti halnya juga Hatta dan Sjahrir. Terpisah dengannya sejak tahun 1933, Amir baru bertemu kembali dalam tahun 1942, dan itu pun hanya selama beberapa minggu. Jika pasangan dua tokoh muda Amir-Sjahrir ini selama bulan-bulan terakhir tahun 1945 oleh sementara sejarawan ditonjolkan, namun tidak dengan kata-kata yang digunakan pasangan tokoh-tokoh yang tua: kata-kata rujukan pada sosialisme menggantikan nasionalisme (inilah salah satu cara bicara tentang arti Perang Dunia II dari sudut sang pemenang), walaupun tetap di dalam acuan yang ditempa para tokoh tua itu. Partai Rakyat Sosialis yang diumumkan berdirinya oleh Sjahrir dalam bulan November 1945 itu (walaupan hanya hidup di atas kertas, tetapi ini masalah lain lagi), dapat disepadankan dengan <em>Nationale Volkspartij</em> (Partai Rakyat Nasional) bentukan Hatta di Negeri Belanda lima belas tahun sebelumnya, sesudah Partai Nasional Indonesia didirikan Sukarno di Indonesia. Dari Sukarno ke Amir dan Partai Sosialis Indonesia, urutan hubungannya pun sama: &#8220;sosialisme&#8221; menggantikan &#8220;nasionalisme&#8221;. Kata &#8220;revolusioner&#8221; yang, dalam rapat-rapat pendahuluan bulan Oktober 1945, disarankan agar dicantumkan pada nama partai sosialis (partai masa depan dari generasi akan datang), ternyata tidak tercantum. Walaupun hal ini tidak disebabkan oleh ketakutan terhadap akibat yang bisa timbul dari sepatah kata itu.</p>
<p>Lalu ada pula pasangan Kanan-Kiri, yang biasa dipakai untuk mengenali kandungan gerakan kebangsaan, untuk pengganti pasangan Kolot-Modern. Ini justru timbul dalam tahun-tahun 1936-1940, ketika Amir telah bebas dari penjara dalam bulan Juni 1935, dan dipandang sebagai sisa hidup dan saksi dari jaman kepahlawanan. Strategi heroisme, yaitu strategi yang dinamakan &#8220;nonkoperasi&#8221; dengan pemerintah kolonial, telah mengalami kegagalan. Oposisi radikal terhadap pemerintah menjadi lumpuh, oleh karenanya terlalu lemah untuk berhadapan dengan represi yang keras. Dalam debat tentang strategi jangka panjang untuk mengusir Belanda (karena &#8220;kaum loyalis&#8221; juga menginginkan kekuasaan), masalah nonkoperasi dan koperasi lalu tersisih (menurut istilah saat itu koperasi ialah &#8220;loyalitas&#8221;). Masalah beralih pada usaha mencari cara-cara aksi yang lain, sehingga karenanya cita-cita sosial dari aksi-aksi politik menjadi jelas, dan bentuk-bentuk identifikasi baru pun ditemukan. Golongan yang menempuh jalan nonkoperasi menamakan diri mereka sebagai &#8220;Kiri&#8221;, dan menyebut golongan &#8220;loyalis&#8221; sebagai &#8220;Kanan&#8221;. Kaum Kiri baru ini diidentifikasi pada pribadi Amir, dan berdasar ini juga tahun-tahun 1936-1940 merupakan &#8220;tahun-tahun Amir&#8221;. Tetapi juga kaum Kanan mempunyai tokoh simbolnya, yang baik oleh para pejabat Belanda maupun sementara tokoh Kiri sebagai lawan berdebat, yaitu Thamrin. Pada akhir tahun &#8217;30-an gerakan anti-kolonialisme yang luas beraneka macam, seperti yang pada tahun 1939 tergabung dalam GAPI atau Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia itu, mempunyai dua kepala: Amir dan Thamrin. Ini sungguh keterlaluan. Ternyata kedua-duanya memang digeser, masing-masing ditarik oleh partainya dari sekretariat GAPI. Namun sebenarnya ini hanya suatu krisis baru dalam gerakan, yang diakibatkan oleh invasi Jerman atas Negeri Belanda. Krisis ini berakibat tragis. Oleh alasan-alasan yang sama sekah tidak jelas, Amir menarik diri atau minggir dari percaturan. Langkah ini dilakukannya sesudah terjadi polemik yang panjang dan ramai dengan Thamrin, yang berlangsung melalui seorang wartawan (yaitu Tabrani, pemimpin redaksi <em>Pemandangan</em>, yang ingin membuat perhitungan pribadi dengan Thamrin). Thamrin, yang dicurigai melakukan hubungan gelap dengan Jepang itu, dalam bulan Januari 1941 meninggal oleh serangan jantung pada umur 47 tahun, yaitu sesudah rumahnya digerebek dan digeledah oleh polisi Belanda.</p>
<p>Kemudian ada tokoh keenam, yaitu Musso. Beberapa bulan sesudah disingkirkan Sukarno, Amir diberi tanggungjawab (atau, tergantung bagaimana orang melihatnya, dibiarkan mengambil tanggungjawab sendiri), untuk atas nama Indonesia menandatangani perundingan gencatan senjata Renville yang sangat buruk itu. Ini terjadi bulan Januari 1948. Beberapa bulan sesudah itu Amir menyatakan dirinya sebagai anggota Partai Komunis Indonesia, yang menurut sejarah resmi partai ini telah &#8220;dibangun kembali&#8221; oleh Musso dalam tahun 1935.</p>
<p>Dalam bulan Agustus 1948, setelah bertahun-tahun dalam pengasingannya di Moskow, Musso kembali ke Indonesia. Segera sesudah tiba ia berusaha menempatkan dirinya sebagai pengasuh citarasa politik bangsa Indonesia. Dengan demikian pernyataan keanggotaan Amir pada Partai Komunis yang retroaktif, pada periode kritis pencarian strategi yang menjelaskan tentang sambutan terhadap kedatangan Musso saat itu, juga harus diartikan bahwa yang disebut &#8220;tahun-tahun Amir&#8221; sebenarnya adalah &#8220;tahun-tahun Musso&#8221;. Artinya, bahwa sejak 1935 Amir tidak lagi sebagai anak-buah Sukarno, melainkan anak-buah Musso. Tetapi justru Hatta yang melempar ide pasangan Musso-Amir ke tengah gelanggang, sebagai alternatif pasangan Sukarno-Hatta. Yaitu pada tanggal 20 September 1948, ketika ia mengumumkan pernyataan seperti yang diucapkan Sukarno sehari sebelumnya, bahwa sebuah republik soviet baru saja diproklamasikan di Madiun. &#8220;Malahan kabarnya, saya tidak tahu benar dan tidaknya, bahwa Musso akan menjadi presiden republik serobotannya ini, dan Amir menjadi perdana menterinya.&#8221;<sup>1)</sup> Sukarno mengecam kup golongan Musso itu, tetapi tanpa menyebut-nyebut nama Amir. Secara fungsional memang Musso yang sama dengannya. Sedangkan Amir adalah masalah Hatta. Dan bukankah Hatta juga yang telah mengambil alih dua jabatan Amir, sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan?</p>
<p>Empat tokoh yang memimpin negara Indonesia selama bulan-bulan pertama, yaitu Sukarno-Hatta-Sjahrir-Amir, menurut urutan kehormatan institusional, naik-turun kursi perdana menteri beriring-iringan seperti angka-angka sebuah arloji otomatis. Satu demi satu mereka turun, angka-angka masing pun berkurang. Akhirnya formasi segi-empat itu hancur, dengan Sukarno dan Hatta saja tersisa. Angkatan muda lenyap. Dan bersama itu, untuk jangka waktu yang lama, juga impian mereka tentang sosialisme, serta harapan mereka tentang kehidupan politik Indonesia sebagai bagian dari sejarah dunia Kiri.</p>
<p>Generasi muda tampil bersama-sama mengecam kekuasaan berlebihan, yang diberi oleh Undang Undang Dasar 18 Agustus 1945 pada presiden Republik, yang sekaligus juga perdana menteri. Tentu saja pendirian itu mendapat tumpuannya yang kuat pada Wakil Presiden. Maka sudah dalam bulan November 1945, pemerintah Sukarno diganti pemerintah yang dipimpin Sjahrir. Mungkin sekali justru hubungannya dengan wakil presiden inilah yang telah memudahkan pengangkatan baginya. Sejak itu dewan menteri bertanggung jawab kepada suatu majelis yang diangkat dari wakil-wakil berbagai organisasi, dan yang sifat perwakilannya tidak diketahui. Orang hanya mengharap bahwa kelak, pada suatu ketika, majelis ini dapat diganti suatu badan perwakilan rakyat hasil pemilihan umum.</p>
<p>Amir yang mengganti Sjahrir memimpin pemerintahan selama enam bulan hanyalah merupakan suatu parentesis. Sekalipun masa enam bulan ini merupakan bulan-bulan perang dan perundingan gencatan senjata. Situasinya eksplosif, dan terasa sedang mencari-cari kambing hitam. Seketika Amir telah dikorbankan, demi dirinya Hatta merestorasi sistem presidentil (yang dahulu ia sendiri membantu menghapusnya itu), dengan dukungan mereka yang selalu melawan pemerintah apa pun sejak November 1945. Dialah pemenang besar dalam permainan ini. Dan seperti Sukarno yang telah meninggalkan Amir, Hatta pun dapat berjalan sendiri tanpa Sjahrir, yang memang tidak lagi tampil di dalam pemerintahan.</p>
<p>Dari Empat Serangkai itu Amir yang paling lemah. Satu-satunya kekuatan padanya hanyalah karena ia pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman mati oleh Jepang. Kecuali itu sebagai menteri ia bisa dipakai sebagai jaminan pemerintah (tetapi yang sekaligus menimbulkan rasa tidak enak), yang risau ingin memperlihatkan kedekatannya pada Sekutu yang pada 29 September 1945 telah mendarat. Amir ialah jaminan, bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukanlah tanda-mata perpisahan dari Jepang. Secara eksplisit Amir tidak pernah mengatakan, bahwa nyawanya telah disambung berkat campur-tangan Sukarno atau Sukarno dan Hatta, sebagai pemimpin-pemimpin pemerintah Indonesia saat di bawah Jepang itu. Tetapi ketika masalah ini diangkat oleh pers, ia juga tidak membantahnya. Dengan demikian Amir telah ikut membantu menyebar citra Sukarno dan Hatta sebagai pelindung-pelindung gerakan bawah tanah, yang untuk saat itu diperlukan dan bahkan sangat penting. Namun demikian, walaupun sementara itu Amir sudah diangkat sebagai menteri, ia baru dibebaskan dari penjara pada tanggal 1 Oktober, enam minggu sesudah proklamasi kemerdekaan; karena Sekutu sudah mendarat, maka menjadi sangat penting tokoh Amir ditampilkan. Hal ini menimbulkan beberapa tanda tanya: sejauh mana sesungguhnya pengetahuan Sukarno dan Hatta tentang nasib Amir selama masa pendudukan Jepang; dan selanjutnya juga tentang kapasitas mereka mengintervensi penguasa Jepang di dalam masalah ini. Selain itu, sekali percaturan politik telah beralih dari masalah perlawanan terhadap Jepang, dan kisah tentang gerakan bawah tanah itu pun sudah tidak terlalu diperlukan lagi, maka tanpa malu-malu Sjahrir berbicara sarkastis tentang kegiatan anti-Jepang Amir (misalnya jika kita baca bagian terakhir <em>Out of</em> <em>Exile</em>). Lebih dari itu Sjahrir bahkan melukiskan Amir tidak lebih sebagai seorang kacung Belanda belaka. Jelas, juga Sjahrir pribadi mempunyai citra &#8220;pejuang bawah tanah&#8221; yang hendak dibelanya. Karena masing-masing orang angkatan tua harus mempunyai &#8220;tokoh pejuang&#8221;-nya sendiri-sendiri, jika Amir untuk Sukarno, maka Sjahrir untuk Hatta. Tetapi karena citra &#8220;pahlawan&#8221; pada dirinya itu agak kabur, tentu saja Sjahrir hanya akan berhasil membelanya dengan jalan mendiskreditkan citra tokoh-tokoh lain yang lebih jelas gambarannya.</p>
<p><strong>III</strong></p>
<p>BERBEDA dengan Sukarno, Hatta dan Sjahrir, yang ditahan jauh dari Jakarta karena <em>exorbitante rechten </em>Gubernur Jenderal, Amir tidak pernah diasingkan. Tetapi gelombang-gelombang penahanan besar-besaran, yang membawa banyak korban pada gerakan kebangsaan dalam tahun 1933-1934, juga menyeret dirinya. Saat itu ia sebagai salah seorang di antara aktivis mahasiswa yang sangat dikenali polisi, dan juga sebagai salah seorang pembantu terdekat Sukarno di dalam Partindo. Oditur Jenderal sebenarnya sudah menyusun tuntutan untuk &#8220;menginternir&#8221; (pengasingan di dalam negeri), ketika ia pada tahun 1933 dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena pelanggaran undang-undang pers. Tetapi hukuman penjara itu menyebabkan keputusan internir tersebut menjadi tertunda. la dipenjarakan di rumah penjara politik pusat Sukamiskin di dekat Bandung, semacam &#8220;Bastille&#8221; Indonesia., tempat segala macam tokoh menarik dapat dijumpainya. Namun sesudah Amir dibebaskan, Oditur Jenderal segera mengambil langkah untuk membuangnya jauh-jauh. Maka pengasingannya ke Digul kembali diperbincangkan. Setelah berunding dengan Dewan Hindia Belanda, Gubernur Jenderal menolak tuntutan mahkamah pengadilan, dan memutuskan pembebasan bersyarat untuk Amir. Tampaknya sedikit pun tidak ada jaminan pada Amir untuk memenuhi syarat tersebut. Namun Schepper dan Mulia, yang memohonkan pengampunan bagi pembebasannya kepada Gubernur jenderal, menjamin Amir akan bertingkah-laku baik. Orang tersebut pertama ialah bekas guru Amir di Sekolah Hukum, dan pejabat tinggi di departemen kehakiman; dan yang kedua ialah saudara sepupu Amir, dan anggota <em>Volksraad. </em>Kedua mereka terutama mempunyai pengaruh besar di kalangan misi Kristen.</p>
<p>Tidak lama sesudah itu diduga Amir berusaha menjalin hubungan dengan Musso, tetapi waktu tidak memungkinkan hal itu. Musso tidak hendak mengambil resiko, apalagi Amir. Di samping itu, kawan-kawan yang mengatur pertemuannya dengan Musso mempunyai banyak alasan untuk mencurigainya sebagai perangkap; atau menduga-duga, bahwa pembebasannya itu disebabkan oleh karena Amir telah menyeberang ke pihak sana.</p>
<p>Masalah yang dihadapi Amir dalam bulan-bulan terakhir tahun 1935 tersebut, juga dirasakan oleh siapa saja yang dari sudut tinjauan politik mempunyai pandangan yang sama. Yaitu bahwa perjalanan gerakan sepanjang tahun-tahun sebelum 1935 mereka pandang sebagai telah membentur tembok represi. Oleh karenanya masalah yang mereka hadapi ialah bagaimana mencari jalan baru untuk maju, baik secara praktis maupun secara intelektual. Strategi konfrontasi yang ditempuh Partindo ternyata telah menghancurkan kehidupan partai itu sendiri, sehingga sarana politik pokok ini perlu dibangun kembali dengan dan demi strategi yang lain. Selama bulan-bulan yang serba tak menentu dan menggelisahkan ini banyak dibicarakan orang tentang &#8220;partai baru&#8221; dan tentang &#8220;reorientasi&#8221;. Amir sajalah yang, dari kalangan kelompoknya, memprakarsai adanya sebuah harian baru <em>Kebangoenan</em>, yang hanya bisa terbit berkat bantuan kelompok Cina Siang Po. Redaktur kelompok ini ialah penyair dan dramawan Sanusi Pane, yang dalam awal tahun 1937 menerbitkan serangkaian karangan berjudul &#8220;Herorientatie&#8221;.</p>
<p>Dari pergolakan pikiran-pikiran itu lahirlah putusan untuk membentuk partai baru Gerindo, Gerakan Rakyat Indonesia. &#8220;Gerindo bukan hanya partainya Amir dan Yamin saja&#8221;, berkata suatu ketika Asmara Hadi, salah seorang muda pimpinan partai ini. la menjadi jengkel terhadap kesan &#8220;kaum reduksionis&#8221; (sekali lagi memandang suatu kelompok sebagai terdiri dua orang saja!), yang suaranya bergema di dalam tubuh Gerindo. Bagaimanapun memang segera ternyata, bahwa partai itu bukanlah milik Yamin. la belakangan memasuki Gerindo karena hatinya yang masih tertambat pada Partindo, dan kemudian segera pula meninggalkannya untuk kembali kepada partainya sendiri itu. Ketika berdirinya Gerindo diumumkan Amir masih tinggal di Sukabumi bekerja di sebuah kantor pengacara, yang dalam bulan Agustus 1938, tak lama sesudah kongres partai yang pertama ditinggalkannya, untuk kembali ke Jakarta. Di sini ia pun mendapat pekerjaan di kantor pengacara yang dipimpin oleh Lie Tjiong Tie. Tokoh ini baru saja terpilih sebagai wakil golongan Cina untuk dewan kota Jakarta, guna menghadapi gembong-gembong, yang sampai saat itu tak terlawan, dari Perserikatan Cina di bawah pimpinan H.H. Kan, seorang anggota terkemuka <em>Volksraad. </em>Ini merupakan pertanda datangnya kemungkinan-kemungkinan baru yang sangat penting. Sambil memimpin partai Amir mencurahkan perhatiannya terutama pada masalah-masalah komunikasi dan pendidikan politik, bahasa, pers dan kantor berita, sekolah dan pendidikan civik. Sebenarnya sudah sejak awal karir politiknya bidang kegiatan tersebut selalu ditekuninya, terutama bidang pers, penerbitan dan pendidikan. Walau secara simbolik ia ikut mengusahakan penerbitan beberapa majalah; dan tidak selalu majalah yang terang-terangan politik. Beberapa di antara majalah penerbitannya itu, misalnya <em>Poedjangga Baroe</em>, cukup menjadi terkenal walaupun bertiras kecil saja. Dalam konteks pencarian bentuk-bentuk baru komunikasi itulah, ia mulai memikirkan tentang kampanye pemilihan, dan di atas prinsip-prinsip ini pulalah Gerindo mengarahkan pandangannya ke depan.</p>
<p>Orisinalitas strategi fundamental partai baru ini terletak pada dua hal. Pertama pada analisisnya mengenai perkembangan hubungan-hubungan internasional dan sistem-sistem politik global, dan kedua pada idenya bahwa krisis ekonomi kolonial yang di Indonesia ditandai dengan runtuhnya perkebunan-perkebunan, dapat mengakibatkan terjadinya krisis bagi politik kolonial. Dan krisis politik kolonial ini akan menimbulkan persoalan tentang pemilikan tanah-tanah jajahan oleh negara-negara kolonial. Strategi ini menegaskan tentang kemungkinan dilakukannya dialog antara Belanda dan Indonesia tentang masalah demokrasi, dan tentang hubungan komplementer antara pembelaan demokrasi di Negeri Belanda menghadapi fasisme yang sedang bangkit di Eropa, dengan memasukkan prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia, khususnya tentang &#8220;hak-hak manusia dan warga negara&#8221; seperti yang dalam bentuknya yang klasik dinyatakan oleh Revolusi Prancis. Strategi partai menegaskan, bahwa Indonesia merupakan sasaran ekspansi Jepang, seperti halnya Belanda sasaran Jerman; dan bahwa pertahanan bersama melawan ambisi-ambisi negara-negara Poros di semua bidang, menuntut dilaksanakannya prinsip-prinsip demokrasi di segala bidang, baik politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan. Khusus untuk Indonesia hal ini menuntut terbentuknya dewan-dewan yang dipilih dan berlakunya prinsip pemilihan umum. Tidak ada masalah jalan tengah, dalam arti berusaha mencari kompromi yang bisa diterima kedua belah pihak, yang berdasar atas ketakutan terhadap perebutan kekuasaan. Strategi ini berdasarkan teori mengenai analisis terhadap krisis hubungan internasional (Amir menulis banyak karangan tentang ini), dan mengenai hubungan antara negeri jajahan dan negara penjajah yang merupakan bagian integral daripadanya. Tetapi strategi ini pun dapat dipandang sebagai sekedar langkah taktis belaka, suatu sikap mundur untuk mengurangi tuntutan kemerdekaan. Maka karenanya lalu dapat dituduh sebagai meninggalkan prinsip-prinsip para pendiri pergerakan, bertekuk-lutut di depan kesulitan perjuangan anti kolonialisme, dan <em>de facto </em>memang melakukan kerjasama dengan kaum penjajah. Tuduhan pokok terhadap Amir sebagai &#8220;intel Belanda&#8221; oleh lawan-lawannya dari segala pihak, kaum ultra-nasionalis ataupun bukan, sedikit banyak bersumber dari penafsiran mereka yang demikian itu.</p>
<p>Strategi front persatuan untuk membela dan mengembangkan hak-hak dan prinsip-prinsip demokratis itu mengingatkan pada apa yang ketika itu diajukan dengan nama &#8220;Front Rakyat&#8221; oleh kaum kiri, khususnya oleh partai-partai yang dekat dengan Komunis Internasional. Strategi ini terjadi khususnya di Eropa, tetapi juga di seluruh bagian dunia lainnya. Perkataan Belanda &#8220;Volksfront&#8221; (front rakyat) muncul dalam penerbitan-penerbitan Gerindo, dan tetap tertera dalam kosakata politik bangsa Indonesia selama satu dasawarsa, yang diberi arti menurut pandangan masing-masing partai tentangnya. Konon untuk membuktikan dirinya sebagai komunis sejak lama itu, konon Amir dalam tahun 1948 pernah mengatakan bahwa inspirasi garis politik Gerindo ditariknya dari analisis Komunisme Internasional. Memang Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda pun sejak tahun 1936 selalu berbicara tentang strategi demikian. Dan ketika dalam tahun 1936 itu juga Dr. Sutomo berkunjung ke Eropa, Perhimpunan Indonesia mengajukan usul kerjasama dengan Parindra yang didirikan setahun sebelumnya oleh Dr. Sutomo tersebut. Bagaimanapun juga strategi yang ditempuh dan dikembangkan oleh Gerindo dilaksanakan juga oleh kaum aktivis, yang pada umumnya termasuk golongan kiri (seperti mereka sendiri menyatakannya). Dari sudut intelektualitas mereka berbeda-beda, tetapi semuanya mempunyai kebutuhan yang sama untuk memulai lagi dari awal. Front Rakyat sebagai bentuk resam persatuan nasional, baik jika kita berbicara tentang Gerindo maupun tentang suatu aliansi dengan Gerindo terlibat, merupakan suatu pihak yang mendapat solidaritas demokrasi dari gerakan internasional.</p>
<p>Pemerintah kolonial dan Negeri Belanda tidak sedikit pun mengacuhkan Gerindo. Satu-satunya mitra bicara yang diacuhkannya ialah Parindra, walaupun apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin tradisional itu tidak mempunyai wibawa di kota-kota. Pada pemilihan dewan kotapraja tahun 1938, &#8220;pribumi&#8221; yang berhak ambil bagian (sekitar 2% penduduk kota-kota bersangkutan) sebagian besar diwakili oleh orang Parindra. Pemerintah tidak<strong> </strong>mau memperluas jumlah pemilih pribumi, karena hal ini akan membuka kesempatan bagi Gerindo untuk mengajukan calon-calonnya. Juga pemerintah tidak bersedia memberi kursi pada Gerindo di dalam <em>Volksraad</em>, dengan jalan menunjuk salah seorang dari pimpinan mereka, seperti yang lazim berlaku bagi organisasi-organisasi yang dipandangnya sebagai &#8220;loyal&#8221;. Terbentuknya badan-badan perwakilan, khususnya Parlemen sejati untuk menggantikan <em>Volksraad </em>yang ada, menjadi tuntutan pokok dari komite penghubung di mana Gerindo duduk di dalamnya, seperti yang dilakukan oleh komite pusat pendukung petisi Sutardjo (1936) dan GAPI, Gabungan Politik Indonesia (1939).</p>
<p>Sesungguhnya antara Parindra dan Gerindo, sebagai elemen-elemen pokok dalam setiap kesatuan nasional itu, pada dasarnya saling bertentangan terutama dalam sepak-terjang ketimbang prinsip. Pertentangan itu bertolak dari analisis mereka tentang situasi internasional, dan dalam pemahaman mereka yang bertolak belakang dalam hal konflik Sino-Jepang. Walhasil pendirian mereka dalam hal kedudukan orang-orang yang oleh hukum Belanda digolongkan sebagai &#8220;bangsa Timur Asing&#8221; (dalam hal ini Cina) di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga Indonesia juga saling bertentangan. Bagi Parindra hanyalah mereka yang oleh Belanda digolongkan sebagai &#8220;pribumi&#8221; itulah yang Indonesia sejati. Baik ke dalam maupun ke luar Parindra berpandangan anti Cina. Karena itu pula Parindra mendapat cap sebagai pro-Jepang, dan dalam pada itu penerbitan-penerbitan mereka pun umumnya memperlihatkan sikap yang sama sekali tidak kritis terhadap fasisme, termasuk fasisme Eropa. Dari sudut ini barangkali Gerindo lebih mewakili perasaan umum di kalangan kaum nasionalis Indonesia saat itu.</p>
<p>Bagaimanapun juga Amir, yang sebagai ahli hukum dan jurnalis bekerja bersama-sama orang Cina rekan-rekannya, mempunyai konsep tentang kewarganegaraan Indonesia atas dasar tempat kediaman dan bukan darah, seperti sudah dikemukakan juga oleh Tjipto Mangunkusumo dan sementara tokoh lainnya. Konsep kewarganegaraan yang demikian ini diajukan dalam kongres ke-2 Gerindo tahun 1939. Apakah konflik ini, yang diperburuk oleh wakil-wakil Gerindo dan Parindra dalam sekretariat GAPI yaitu Amir dan Thamrin, yang mengakibatkan terjadinya krisis antara kedua partai bersangkutan? Sehingga pimpinan mereka masing-masing berusaha mengatasinya dengan mengganti Amir dengan Gani dan Thamrin dengan Sukardjo? Ataukah semata-mata karena pertentangan antara kedua tokoh itu, sehingga masing-masing saling caci-mencaci?</p>
<p>Sudah dalam bulan Juli 1940 suasana di Jakarta menjadi terasa sangat tegang. Ketika itu Negeri Belanda sudah diduduki Jerman, dan pemerintahnya pun sudah mengungsi ke London. Konflik antara Amir dan Thamrin terjadi untuk pertama kali pada waktu menghadapi pemilihan dewan kota praja yang direncanakan tanggal 12 Juni. Dalam awal bulan Mei Gerindo mengusulkan Amir sebagai calon bersama GAPI, dan semua partai menerimanya kecuali Parindra (Partai Indonesia Raya). Karena pemilihan ini untuk dewan kota praja Jakarta, maka yang menentang Amir sebagai calon bersama GAPI itu pun pimpinan Parindra Jakarta, yaitu Thamrin. Amir tampil sebagai calon koalisi berhadapan dengan calon Parindra, dan mendapat sepertiga jumlah suara. Perolehan suara yang kecil ini, sekitar seribu suara, merupakan pertanda yang tidak baik. Apakah benar karena Thamrin berusaha menghalangi terpilihnya Amir, yang dipandangnya dapat menjadi saingan berbahaya baginya di dalam dewan? Komunike Gerindo tentang penarikan Amir dari pengurus GAPI menyebut usul Amir, tentang langkah yang harus diambil berkaitan dengan didudukinya Belanda oleh Jerman, tetapi usul itu ditolak GAPI. Bagaimana isi setepatnya usul itu tidak dijelaskan. Tetapi apakah memang demikian? Dalam bulan Juni hanya Parindra yang menolak mendukung pencalonan Amir dalam pemilihan dewan kota. Tetapi kemudian perhatikanlah, pada pemilihan untuk pimpinan baru Gerindo, baik Amir sebagai ketua lama maupun Wikana dan bahkan sesudah penghitungan kembali suara ternyata juga Adam Malik, termasuk tokoh-tokoh yang tidak lagi dicalonkan. (Wikana dan Adam Malik, kedua-duanya anggota pimpinan partai). Pemilihan ini dilakukan melalui surat menyurat, oleh karena adanya pelarangan hak berkumpul berkenaan dengan dilakukannya keadaan darurat. Menurut komunike yang ditandatangani Gani dan agak membingungkan Gerindo, hal itu terjadi atas permintaan mereka yang bersangkutan sendiri. Dalam bulan Juni Amir dan Wikana diinterogasi lama oleh polisi politik, untuk menyidik pamflet-pamflet komunis yang mereka dapati di daerah Bandung. Isi pamflet itu sendiri tidak diumumkan. Apakah Amir dan Wikana sudah masuk dalam jaringan perjuangan bawah-tanah? (Gerindo memang merupakan partai pelarian aktivis-aktivis dari semua partai yang terlarang). Apakah karena inilah mereka sendiri memutuskan, atau atas permintaan jaringan tersebut, menarik diri dari kehidupan umum agar tidak menarik perhatian polisi? Kepada orang-orang yang dekat dengannya Amir mengatakan, dalam interogasi itu ia diperingatkan pada syarat-syarat pembebasannya lima tahun yang lalu, dan diancam bisa segera dibuang ke Digul atau karena pimpinan harian Gerindo mulai menjadi panik, di tengah-tengah &#8220;keadaan darurat&#8221; dan menghadapi pada satu pihak konflik dengan Parindra dan pada lain pihak pemeriksaan polisi, yang kedua-duanya terpusat pada diri Amir? Pendamping Gani waktu itu ialah Sartono, tokoh yang sesudah Sukarno dipenjara dalam tahun 1929 telah membubarkan PNI.</p>
<p>Namun kenyataan yang terjadi ialah, bahwa Amir yang sampai bulan Juni 1940 masih ketua Gerindo, dalam bulan Juli tidak lebih selain sebagai anggota biasa. Dalam bulan September ia meninggalkan pekerjaan sebagai pengacara dan memasuki lapangan pemerintahan. Dalam hubungan ini Amir sama sekah bukan saja sekedar seorang militan angkatan lama, tetapi juga salah satu dari sebagian besar calon-calon pimpinan pemerintahan sipil Indonesia merdeka kelak. la bekerja pada bagian ekspor Departemen Perekonomian yang dikepalai H.J. van Mook, yang pengangkatannya pada jabatan ini mendapat sambutan hangat dari Sanusi Pane di dalam <em>Kebangoenan </em>(ia menyebutnya sebagai &#8220;seorang merah&#8221;). Dalam tahun 1945 kelak H.J. van Mook kembali ke Jakarta, sebagai Letnan Gubernur Jenderal untuk berusaha membangun kembali kekuasaan Belanda. Bahwa ia menduduki jabatan demikian, dan dipimpin atasan yang demikian pula, menjadi bukti tambahan tentang keterlibatan Amir yang ultranasionalis itu dengan kolonialisme. Dalam tahun 1940 Amir menjelaskan, bahwa dalam asas-asas Gerindo tidak ada sepatah kata pun yang melarangnya bekerja sebagai pegawai negeri. Pekerjaan dalam bidang ekspor justru akan memberi kesempatan baginya, untuk memperdalam pengetahuannya tentang perekonomian kolonial dan hubungan-hubungan perekonomian internasional.</p>
<p>Tetapi sesungguhnya menarik diri dari kehidupan politik tidak mungkin. Kalangan diskusi Kristen mengundangnya hadir pada pembahasan-pembahasan yang tidak selalu tentang teologi. Amir seorang ahli dalam pembentukan dan pengorganisasian partai. Gerindo tampaknya tidak lagi menghendaki dirinya, bahkan juga sesudah keadaan darurat perang dicabut. Partai cabang Jakarta usul, agar dia dan Wikana duduk lagi dalam komite eksekutif partai, tetapi usul ini tidak diterima kongres bulan Oktober 1941. Beberapa hari kemudian ia mengikuti konperensi tahunan Perhimpunan Misi, yang antara lain membahas masalah pembentukan Partai Kristen Indonesia. Tidak diketahui, apakah kehadirannya pada konperensi ini berkaitan dengan kekalahannya di dalam Gerindo. Tampaknya Amir tidak melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mendirikan partai Kristen, kecuali seandainya ada partai Islam yang kuat, dan yang akan mengancam kebebasan beragama. Berita-berita sangat singkat dalam pers berbahasa Belanda seperti menabur sekam pada bara api. Polemik berkecamuk sepanjang satu bulan penuh, memenuhi seluruh halamanhalaman pada kebanyakan harian-harian berbahasa Indonesia. Dalam pada itu golongan Islam menolak pendapat, bahwa adanya partai Islam akan membahayakan bagi kebebasan beragama. Sedangkan dari kalangan kaum sekuler tidak seorang pun mengerti, mengapa urusan mempertahankan kemerdekaan beragama harus dilakukan oleh partai-partai agama, dan terutama tidak dapat diterima bahwa pandangan demikian dari seorang seperti Amir. Ketika Gani mengundangnya untuk menjelaskan masalah tersebut pada pimpinan Gerindo, Amir menyatakan bahwa ia semata-mata menyumbangkan pendapatnya dalam suatu pertukaran pikiran tanpa mengaitkan dirinya dengan sesuatu kedudukan apa pun. Maka Gerindo pun menyatakan, masalahnya telah selesai. Tetapi perdebatan itu masih terus berbekas sampai tahun 1945. Sejak berdirinya Masyumi memandang Amir sebagai salah seorang musuhnya yang paling jahat. Kenyataan asal-usul pribadinya yang dari keluarga Islam justru memperburuk persoalan.</p>
<p>Hanya beberapa bulan sesudah perselisihan itu Amir berusaha, setelah dihubungi oleh anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal, menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja bersama dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak mendapat sambutan. Sesama aktivis rekan-rekannya masih belum pulih kepercayaan mereka terhadapnya, yang sudah hilang sejak tahun 1940 itu.</p>
<p>Selama paroh kedua tahun 1942 Amir, mewakili organisasi-organisasi Kristen, menyusun pranata-pranata peralihan yang dipaksakan oleh Jepang. Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap, di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat ditafsirkan sebagai terbongkarnya jaringan suatu kelompok terorganisasi, yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama dari sisa-sisa hidup kelompok inilah Amir, kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat. Tetapi barangkali kelompok ini baru terbentuk belakangan, sesudah mereka di dalam penjara. Namun demikian identifikasi penting kejadian Surabaya itu, dari sedikit yang kita ketahui melalui sidang-sidang pengadilan mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan pada bekas para pemimpin Gerindo dan Partindo Surabaya. Hal ini barangkali dapat diartikan, bahwa penerimaan mereka terhadap gagasan front anti-fasis dan terhadap pembentukan persekutuan dengan Belanda anti-poros, mempunyai hubungan dengan pekerjaan politik Musso dalam tahun 1936.</p>
<p><strong>IV</strong></p>
<p>PERISTIWA Madiun yang membersihkan FDR (Front Demokrasi Rakyat) pada akhir 1948, dan Peristiwa 3 Juli 1946 yang memusnahkan Persatuan Perjuangan, bagaimanapun juga terjadi menurut pola yang sama. Seperti dikatakan, jika sejarah berulang maka cenderung menjadi dagelan. Tetapi dalam hal ini bukan menjadi dagelan, melainkan suatu malapetaka dengan ribuan korban yang luasnya sama sekali berbeda. Pemerintahan tandingan yang buru-buru disusun di Madiun, barangkali bisa dipandang juga sebagai salah satu &#8220;Komune&#8221; dalam sejarah revolusi-revolusi abad ke-20, yang sedikit-banyak mengingatkan kita pada Komune Paris tahun 1871. Dalam banyak hal Hatta mengingatkan kita pada Thiers. Perebutan meriam-meriam Garda Nasional di Paris tahun 1871, di bawah tatapan rasa puas orang-orang Prusia, serupa dengan dilucutinya pasukan rakyat Pesindo tahun 1948, demi ketenteraman hati Amerika. Tetapi semuanya itu hanyalah sekedar analogi-analogi.</p>
<p>&#8220;Peristiwa&#8221; tahun 1946 seperti halnya &#8220;peristiwa&#8221; tahun 1948. Yaitu terjadi sebagai akibat pemerintah menolak mentoleransi terhadap setiap oposisi, yang berusaha berbicara kepada rakyat secara langsung. Kaum oposisi lalu bertindak menurut kepentingan sendiri, dan bukannya berunding dalam ruang tertutup bersama pemerintah. Pada setiap kesempatan pemerintah menegaskan, bahwa pengakuan internasional terhadap Indonesia merupakan pertaruhan. Artinya, pengakuan itu hanya akan diperoleh jika pemerintah dapat membuktikan adanya dukungan luas, yang berupa kemampuannya menguasai situasi di dalam negeri. Dalam pada itu perlu dikemukakan bahwa pemilihan umum, sebagai bukti keabsahan yang diterima Konstitusi satu-satunya, hanya dapat berlangsung dalam suasana dalam negeri yang damai dan aman. Belanda selalu berbicara tentang &#8220;<em>rust en orde</em>&#8220;. Itulah alasan tetap suatu &#8220;pemerintah yang kuat&#8221;, yang saling diperolok-olokkan oleh kedua belah pihak. Pemerintah mengatakan posisinya dibikin lemah oleh cara-cara oposisi, dan oposisi mengatakan bahwa politik pemerintah yang mencontoh Belanda itu suatu pertanda kelemahan. Pemerintah mengatakan konsolidasi kekuasaan, sedangkan oposisi mengatakan mempercepat jalannya Revolusi. Akibatnya ialah konfrontasi.</p>
<p>Dalam bulan Maret 1946 Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin dan Menteri Dalam Negeri Sudarsono, kedua-duanya tokoh penting Partai Sosialis, menemukan alasan bersama bahwa ide &#8220;masa genting&#8221; untuk memungkinkan penahanan Tan Malaka itu sama sekali tidak sah. Tan Malaka, kalau bukan pemimpin Persatuan Perjuangan yang sebenarnya setidak-tidaknya secara intelektual, adalah tokoh penentang politik berunding dengan Belanda. Walaupun merupakan suatu masalah penting namun barangkali tidak pernah diketahui, mengapa pada 19 September 1948 Sukarno memutuskan untuk mengubah kejadian-kejadian yang terjadi di Madiun tersebut menjadi suatu perang saudara, yaitu dengan menyatakannya sebagai proklamasi berdirinya sebuah Republik Soviet di sana. Padahal proklamasi seperti itu tidak seorang pun pernah mendengarnya, begitu juga tidak seorang pun berminat membuktikan kebenaran kabar yang diucapkannya itu.</p>
<p>Terlebih-lebih lagi, dalam dua kejadian tersebut, pemerintah pun telah memutuskan untuk menampakkan kemampuannya menguasai keadaan. Oleh karena kejadian-kejadian ini berlangsung di bawah pengawasan pengamat-pengamat yang sangat kuat, yang dukungan mereka sangat diperlukan, yaitu Inggris untuk kejadian tahun 1946 dan Amerika untuk kejadian tahun 1948. Bahwa drama kecil tahun 1946 itu telah menjadi drama besar tahun 1948, barangkali bisa diterangkan dengan perbedaan besarnya taruhan untuk dua kejadian itu masing-masing.</p>
<p>Perpindahan alat-alat pemerintah yang penting ke Yogyakarta pada tahun 1946, sementara Sjahrir tetap berada di Jakarta, menyebabkan peranan Amir sebagai Menteri Pertahanan menjadi lebih menonjol, dan praktis menjadi tokoh kedua pemerintah secara tidak resmi. Oleh karenanya dialah juga dan bukan Perdana Menteri, Menteri Dalam Negeri atau Menteri Kehakiman, yang dipandang sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap penahanan Tan Malaka dan kawan-kawannya. Maka ketika ia harus mundur dalam tahun 1948, orang-orang yang telah meragukannya itu pun, segera melihat datangnya saat pembalasan.</p>
<p>Persaingan antara pemerintah dengan Persatuan Perjuangan (yang semula juga disebut sebagai &#8220;Volksfront&#8221;, suatu referensi sejarah yang diikuti juga oleh kaum sosialis) tidak banyak bersumber pada analisis yang bertentangan (menurut wacana Persatuan Perjuangan, dengan meminjam kata-kata Lenin, tidak ada &#8220;analisis kongkret tentang situasi kongkret&#8221;), melainkan lebih banyak pada rumusan-rumusan yang berbeda mengenai revolusi, demokrasi, negara, dan Indonesia. Sehingga pemerintah, seperti yang pernah diperbuat Hatta tahun 1945 sesudah terjadinya berbagai peristiwa, tergerak untuk menjawab slogan-slogan mereka: revolusi bukanlah sekedar konflik bersenjata, demokrasi bukanlah pembagian kekuasaan terus-menerus. Berbicara tentang perjuangan diplomasi Amir, dalam bulan November 1945 mengatakan, bahwa Indonesia harus menempuhnya jika ingin kemerdekaannya diakui pihak Belanda. Bagi para pendukung &#8220;perjuangan&#8221; kesempatan menjadi terbuka untuk membantah kata-kata yang diucapkan Amir tersebut. Walaupun merupakan kata-kata biasa di dalam bahasa militan saat itu, bagi lalu digunakan untuk mempertentangkan kata &#8220;perjuangan&#8221;, menurut artinya yang positif, dengan kata &#8220;diplomasi&#8221;, menurut artinya yang negatif. Dengan demikian kata &#8220;perjuangan&#8221; lalu mendapat arti absolut, yang dengan cara apa pun tidak dapat dirinci-rinci.</p>
<p>Dalam gayanya sendiri represi juga merupakan persoalan semantik, oleh karena pasal 28 Undang Undang Dasar berbicara tentang kemerdekaan berserikat, kemerdekaan berkumpul, dan kemerdekaan mengeluarkan pikiran. Benar bahwa komunike Jaksa Agung Kasman Singodimedjo 16 Januari 1946 telah memberikan penjelasannya tentang macam-macam kemerdekaan itu. Komunike itu memperingatkan para pembacanya, dalam melaksanakan kemerdekaan tersebut, tidak mengabaikan akibat- akibat yang terkandung di dalamnya. Di atas segala-galanya keamanan dan ketertiban itulah yang harus diutamakan.</p>
<p>Amir yang, sesuai dengan wewenangnya, dalam bulan April 1946 dibebani tugas sulit untuk meredakan ketegangan yang memuncak di Sumatra, tentang penahanan-penahanan yang terjadi di Jawa dalam bulan sebelumnya menerangkan di Medan sebagai berikut. &#8220;Marilah kita jadikan sebagai semboyan bersama: Bagaimanapun pemerintah itu, selama masih pemerintah kita, harus kita taati dan kita dukung seratus persen&#8221;. Kata-kata ini diucapkan seorang Amir yang sama, yang dua bulan kemudian mengucapkan pidatonya di depan para utusan Kongres Pemuda ke-2 di Yogyakarta. Di situ ia menyerukan agar para pemuda meneruskan revolusi yang telah mereka mulai, dan tidak membiarkannya jatuh ke tangan para calo-calo politik dan koruptor yang berjiwa dari jaman lain. Pemerintah memerlukan semangat para pemuda&#8230; Salah satu resolusi Kongres dirumuskan berdasarkan kata-kata tersebut: &#8220;Tugas para pemuda ialah memperbarui semua kekuatan, agar mereka dapat bertindak sesuai dengan tuntutan Revolusi. Dalam masa sekarang ini sikap yang korektif-konstruktif merupakan sikap yang paling sesuai dengan semangat pemuda. Korektif berarti berani mengubah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Konstruktif oleh karena kita perlu membangun dan menempatkan kekuatan-kekuatan yang menegakkan dan mempertahankan Negara&#8221;.</p>
<p>Yang sukar ialah bagaimana menemukan cara yang bisa mempertemukan antara Negara dan Revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru. Ide tentang &#8220;sikap korektif-konstruktif&#8221; agaknya dirumuskan untuk menentang sikap kaum oposisi yang destruktif. Masalahnya ialah, bahwa dengan mengirim pasukan untuk melawan &#8220;PKI-Musso&#8221; dalam bulan September 1948, seperti dikatakannya sendiri, Sukarno menggunakan kata-kata &#8220;tindakan korektif&#8221; melawan kaum pengacau yang mengancam ketertiban umum dan keamanan nasional. Sementara itu mereka yang dikecamnya, antara lain termasuk Amir dan Suripno, membela diri dengan mengatakan justru mereka telah melakukan &#8220;tindakan korektif demi menyelamatkan kemerdekaan tanah air. &#8220;Koreksi&#8221; itu tidak secara &#8220;konstruktif&#8221;. Sistem dan kritiknya satu sama lain saling berlawanan.</p>
<p>Justru di Kementerian Pertahananlah, dalam usaha menyusun tentara rakyat nasional, Amir jelas dapat menilai lebih baik betapa sulitnya mengintegrasikan Revolusi dengan aparatur Negara. la memang dalam posisi untuk menarik pengalaman Revolusi Prancis, ketika suatu &#8220;amalgam&#8221; antara antusiasme pemuda dengan kemampuan militer dari bekas anggota pasukan kerajaan melebur dalam &#8220;<em>levée en masse</em>&#8220;. Model Tentara Merah yang tidak dikenal umum, pun Amir telah mengenalnya. Tetapi ia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakannya. Ketika pada 14 November 1945 ia ditunjuk memangku jabatan Menteri Pertahanan, sebagai entitas administratif kementerian ini sebenarnya tidak ada. Lagi pula pada 11 November 1945 di Yogya diselenggarakan konperensi, yaitu di markas besar barisan kelasykaran, untuk memilih panglima tertinggi dan juga menteri pertahanan. (Pasukan Sukarela yang terdiri dari berbagai pasukan yang bergabung bersama-sama, di tengah suasana vakum kekuasaan itu, dan menyatakan diri sebagai tentara pemerintah). Sebagai menteri pertahanan terpilih saat itu ialah Sultan Yogya, yang berperanan selaku pelindung konperensi tersebut. Amir yang baru diangkat tiga hari sesudah itu tentu saja berada dalam kedudukan yang sulit. Bagaimanapun golongan tentara pastilah tidak pernah menerima, jika mereka tidak diberi hak untuk memilih menteri pertahanan mereka sendiri.</p>
<p>Bagi Amir tentara adalah batu-alang utama. Inilah juga penyebab kekalahannya secara politik dan militer dalam bulan Juli 1947. Bahkan sesudah kementeriannya pindah ke Yogyakarta pun, bulan Januari 1946, hubungannya dengan markas besar angkatan perang tetap sulit. Tiba-tiba golongan tentara menghadapi masalah dalam gabungannya dengan lasykar-lasykar lain, yang telah tumbuh di dalam keadaan yang berbeda dan tidak<strong> </strong>mau ikut serta bersikap memusuhi Kementerian Pertahanan. Pembentukan badan koordinasi kelasykaran, Biro Perjuangan, di bawah kementerian pertahanan dan bukannya markas besar angkatan perang, ditanggapi oleh golongan tentara sebagai usaha Menteri Pertahanan untuk membangun pasukan pribadinya. Ide &#8220;tentara masyarakat&#8221; yang merupakan ide sentral bagi politik militer, dan yang di dalam sejarah Prancis dilambangkan melalui pertempuran di Valmy, tidak pernah bisa berkembang menjadi semangat korps di kalangan tentara Indonesia. Bersamaan dengan perjalanan waktu justru ide &#8220;dwifungsi&#8221; yang telah meresapinya, dan mengangkatnya menjadi golongan &#8220;supra-masyarakat&#8221;. Segala daya-upaya Kementerian Pertahanan untuk memberi jiwa politik pada tentara, menanamkan ide &#8220;kemasyarakatan&#8221;, membuang paham korporatisme, patronase, faksionalisme dan, meminjam kata-kata Jenderal A.H. Nasution sendiri, segala macam &#8220;vertikalisme&#8221; memang telah selalu dirintangi oleh markas besar angkatan perang. Terbentuknya Staf Pendidikan Tentara di dalam Kementerian Pertahanan dalam bulan Januari 1946, dengan hebat telah diboikot oleh berbagai kesatuan tentara. Alasan pemboikotan mereka ialah bahwa pemerintah, dalam hal ini menteri yang bersangkutan atau pihaknya, hendak berusaha mengindoktrinasi tentara, dan mengganti fungsi perwira tentara dengan komisaris politik.</p>
<p>Sejak pengangkatan Sjahrir, tuntutan Partai Masyumi yang tak kunjung henti untuk posisi puncak dalam kekuasaan dan disingkirkannya Amir, berkat bantuan Hatta akhirnya berhasil. Ketika semuanya itu telah terjadi, angkatan muda di dalam partai ini pun beramai-ramai di depan kantor-kantor pemerintah menyerukan yel yel &#8220;Allahu Akbar, Kabinet Amir bubar&#8221;. Dan sulit bagi Amir untuk menempatkan dirinya dalam oposisi. Sejak pemerintah republik yang pertama terbentuk, ia terus-menerus menjadi menteri. Lebih dari itu dialah juga yang, dalam saat-saat sulit, telah selalu menegaskan tentang perlunya menyatukan kekuatan di belakang pemerintah. Pada waktu Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang selalu mempunyai hubungan istimewa dengan Amir, mengorganisasi demonstrasi besar-besaran menentang penyingkiran Amir dari kedudukannya itu, ia justru membantu Hatta untuk melicinkan jalannya saat peralihan. Bersama Hatta ia pergi ke Sumatra selama beberapa hari. Di depan rapat pertama FDR (Front Demokrasi Rakyat) di Solo tanggal 26 Februari 1948, Amir mengritik pemerintah baru lebih banyak dari wataknya yang otoriter ketimbang dari program politiknya. Satu bulan kemudian, ketika harus memberi kesaksian di depan pengadilan terhadap para pengatur &#8220;komplotan&#8221; 3 Juli 1946, Amir tetap mempertahankan pendiriannya seperti yang telah dikemukakan pada saat peristiwa itu terjadi. Namun secara pribadi tanpa bimbang ia mengatakan, bahwa masalahnya berkenaan dengan pemberian jaminan kepada pihak Inggris, yang ketika itu bertindak sebagai juru damai antara pihak Indonesia dan Belanda. Janganlah kepada Inggris diberi kesempatan untuk memenangkan pihak Belanda, dengan berdasar pada dalih &#8220;bahaya kaum ekstremis&#8221;. Dengan kata-kata lain, sedikit banyak merupakan ulangan dari peristiwa bentrokan bersenjata di Surabaya, yang terjadi dalam bulan-bulan Oktober dan November 1945.</p>
<p>Perubahan pendirian 180 derajat yang dialami Amir itu berkaitan dengan suasana ketegangan Timur-Barat yang memburuk, dan perkembangan peranan diplomasi Amerika di Indonesia. Barangkali memburuknya hubungan Timur-Barat tersebut juga merupakan sebab-musabab jatuhnya pemerintah Amir, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur partai komunis itu. Sejak bulan Oktober 1947 sejumlah lusinan penasihat dan wartawan Barat tiba di Indonesia, bersama-sama dengan para anggota Komisi Jasa-Jasa Baik PBB, yang menyebarkan seruan pembasmian kaum komunis, dan sejalan dengan itu mendesak para pengambil wewenang politik di Indonesia untuk segera mengambil tindakan. Dari bulan April 1948 dan seterusnya kampanye anti FDR yang luar biasa kasar dilancarkan oleh koran-koran Masyumi dan GRR (Gerakan Rakyat Revolusioner), suatu organisasi berkecenderungan teroris yang tumbuh dari tubuh Persatuan Perjuangan. Saat inilah ketika Amir mulai ditetapkan sebagai pengkhianat par excellence, yang pada masa kanak-kanaknya mengkhianati Islam untuk masuk Kristen agama penjajah, dan yang dalam masa mudanya meninggalkan nasionalisme untuk bekerjasama dengan Van Mook. Saat inilah juga ketika Amir, melihat Mao Ze-dong di Cina hampir memperoleh kemenangan dan Vietnam masih terus dalam perlawanan (yang di Indonesia, setelah perjanjian Fontainebleau, dikecam luas), mulai berpikir tentang kemungkinan menempuh jalan perjuangan lain. Untuk itu, is berpikir, kiranya akan lebih baik jika ia pun ikut melibatkan diri di dalam pemerintahan dan negerinya.</p>
<p><strong>V</strong></p>
<p>TIDAK seperti Sukarno, Hatta dart Sjahrir, Amir tidak banyak menulis. Hanya beberapa karangan pendek pernah ditulisnya di sana-sini. Ia tidak meninggali autobiografi, memoar, renungan, kumpulan pidato, dan catatan-catatan. Pihak keluarganya menyebut-nyebut tentang adanya sebuah buku harian, yang diduga selamat dari penggrebegan di rumah tinggalnya di Yogya dalam bulan September 1948, tetapi kemudian buku itu entah di mana. Ia memang seorang orator yang, agaknya, tidak pernah menyiapkan sebelumnya pidato-pidatonya. Para wartawan setidak-tidaknya tidak pernah menerima salinan pidato-pidatonya, sehingga masing-masing berbeda-beda dalam pemberitaannya. la seorang orator besar yang, menurut semua saksi, bisa disejajarkan dengan Sukarno. Tetapi menurut Surjono, yang bekerja pada bagian pers Pesindo, sebagai orator Amir tidak mempunyai gaya yang sama seperti Sukarno yang mendasarkan kiat pidatonya pada irama bahasa dan dampak suaranya. Gaya pidato Amir terletak pada permainan citra-citra. Jika bicara tentang Surabaya dipakainya kata-kata: kota Kalimas, kota Tanjung Perak, kota Gang Ringgit, kota kemelaratan. Laporan Belanda tahun 1933 menggambarkan Amir sebagai seorang orator yang sangat brilyan, yang suka membumbui penalaran-penalarannya dengan humor sarkastis, sehingga karenanya ia menjadi sangat populer.</p>
<p>Pemerintah Belanda menaruh hormat terhadapnya. Barangkali karena citra tokoh muda Kristen ini menjanjikan sebagai juru khotbah pada kemudian hari, suatu gema kerinduan pada Politik Etis tentang konvergensi Timur-Barat. Dalam suratnya tertanggal 10 November 1933, Gubernur Jawa Barat membandingkan antara Yamin dengan Amir. Tentang yang pertama dilukiskannya sebagai anak-panggung yang hingar-bingar dan demagog, ekstremis di gedung kesenian, pribadi yang tak berwatak, tak berpengaruh dan tak punya minat, yang bisa ditinggal sendirian tanpa khawatir. Adapun Amir, seorang ekstremis dengan sepenuh hati, tegas, yakin dan mantap, yang bagaimanapun juga harus ditahan. Pendapat Gubernur itu agaknya bertolak dari alasan, karena Amir sebagai redaktur, menolak menyebut nama pengarang anonim sebuah artikel berjudul &#8220;Massa Actie&#8221; yang diterbitkannya. Sementara itu, walaupun Yamin sendiri tidak pernah mengakui, semua orang tahu dialah yang menulisnya. Penolakan Amir itu berakibat pelarangan baginya untuk menulis dan juga memimpin sebuah penerbitan. Sekali lagi, dalam bulan Juli 1948 lima belas tahun kemudian, barangkali dengan harapan samar-samar untuk menarik Amir kembali, harian Belanda <em>Nieuwsgier </em>menulis sebuah karangan. Ditulisnya bahwa ia tidak seperti Sjahrir, yang sudah merasa senang dengan berada di tengah kalangan intelektual dan menyukai menulis di atas segala-galanya. Tetapi Amir memang seorang pemimpin rakyat yang senang berbicara di tengah-tengah massa, dan juga tabu bagaimana berbicara dengan mereka itu.</p>
<p>Sebuah dokumen NEFIS (<em>Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service</em>), jawatan rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947 menulis tentang Amir, &#8220;ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut&#8221;. Belanda mungkin tahu bahwa kultus terhadapnya di kalangan Pesindo berasal dari cerita para tahanan sesamanya, bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang dijatuhkan Jepang terhadapnya. Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya dengan kaki di atas&#8230;</p>
<p>Dalam salah satu dari ceramahnya yang terakhir <em>(Choises and Circumstances, </em>1988) Soedjatmoko berbicara tentang Amir: &#8220;orang yang tinggi pengetahuannya, dengan kehangatan dan pesona pribadi yang luar biasa&#8221;. Para penginjil yang dalam tahun 1941 pernah minta bantuan kepadanya mengatakan, bahwa mereka memerlukan seseorang yang &#8220;berpikir horisontal&#8221;. Orang-orang yang pernah mengunjungi Amir di rumahnya di Menteng Pulo, sebuah kawasan di Jakarta yang sangat sederhana, teringat pada sambutannya yang langsung dan lugas. Sesama pelajar teman-temannya dari Gymnasium di Haarlem juga mengenangnya sebagai seorang yang sangat senang bergaul.</p>
<p>Membaca Hatta dan Sjahrir orang akan diberi kesan yang sama sekali berbeda. Seorang ambisius yang mentah, tidak berwatak, tidak berkeyakinan, yang gampang berganti pikiran seperti berganti baju. Seorang yang berangasan dan sewenang-wenang. &#8220;la. suka memukuh istrinya&#8221;, kata Hatta (<em>Bung Hatta Menjawab</em>,1978: 23).</p>
<p>Mereka yang tidak percaya bahwa ia telah diperdayakan oleh setan, karena sedikit banyak dia sendiri pun setan, akan mengatakan: &#8220;Lihat dalam tahun 1927 ia kembali dari Belanda. Padahal di sana ia bisa belajar hukum, tetapi mengapa ia tidak melakukannya? Ia kembali tahun 1927, mengapa justru tahun ini? Karena Partai Komunis Indonesia baru saja dipukul hancur, dan ia mendapat mandat dari Partai Komunis Belanda untuk membangunnya kembali. Partai Komunis Indonesia yang baru bukanlah partainya Musso, tetapi partainya Amir.&#8221;</p>
<p>Hanyalah pada medan angan-angan, legenda hitam menjadi sangat dekat pada legenda keemasan: <em>Amir Sang Pembangun</em>.</p>
<p>oo0oo</p>
<p><strong>Ikhtisar Riwayat Amir Sjarifuddin</strong><sup>2)</sup></p>
<p><em>27 April 1907</em>: Hari bulan lahirnya Amir Sjarifuddin di Medan, menurut catatan yang disimpan keluarga. Ia anak sulung Djamin gelar Baginda Soripada (lk. 1885-1949) dari marga Harahap, dengan Basunu (lk. 1890-1931) dari marga Siregar. Dua marga ini termasuk dalam golongan masyarakat Batak Angkola. Ayah Baginda Soripada, yaitu Ephraim gelar Sutan Gunung Tua (lk. 1840-1916) keturunan keluarga kepala-kepala adat dari Pasar Matanggor di Padang Lawas Tapanuli. Ia bersekolah di sekolah yang dipimpin seorang penginjil Kristen A. Schreider di Parausorat antara 1868-1873. Sesudah dipermandikan Ephraim meniti karir sebagai djaksa di Sipirok dari 1875 sampai 1885. Kemudian menjadi <em>hoofddjaksa </em>di Padang Sidempuan sampai 1907, dan di Sibolga sampai 1909. Sesudah pensiun ia kembali ke Padang Sidempuan, ke rumah keluarga yang masih ada di sana. Soripada, anaknya yang ke-4, pindah ke Medan. Pada saat perkawinannya dengan seorang gadis, dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu-Islam di Deli, sesuai dengan hukum adat yang berlaku, ia pun memeluk Islam.</p>
<p><em>28 Maret 1912</em>: Soripada diangkat menjadi asisten <em>hoofddjaksa</em> di Medan.</p>
<p><em>1914</em> (?): Amir masuk sekolah dasar Belanda di Medan (ELS: Euroeeshe Lagere School).</p>
<p><em>4 Desember 1915</em>: Berkat ayahnya Soripada mendapat kedudukan sebagai <em>hoofddjaksa</em> di Sibolga, dan di sini Amir masuk sekolah dasar.</p>
<p><em>Agustus 1921</em>: Atas undangan saudara sepupunya, Mulia, Amir datang di Leiden, yang belajar di kota ini sejak 1911. Mulia baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad, tak lama sebelum kedatangan Amir. Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvijn, Dirk Smink, dan di sini juga Mulia menumpang.</p>
<p><em>September 1921</em>: Amir masuk Gymnasium di Leiden.</p>
<p><em>September 1925</em>: Pindah dari Leiden, masuk Gymnasium di Haarlem.</p>
<p><em>Maret</em> (?) <em>1926</em>: Soripada dipecat, karena pada bulan April 1925 memukul seorang tahanan di penjara Sibolga.</p>
<p><em>25 Mei 1926</em>: Soripada dijatuhi hukuman penjara 3½ tahun, ditambah 5 tahun tidak boleh bekerja sebagai pegawai negeri. Hukuman itu kemudian diperingan.</p>
<p><em>1926-1927</em>: Amir menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem.</p>
<p><em>September 1927</em>: Sesudah lulus ujian tingkat kedua, karena masalah keluarga, Amir kembali ke kampung halaman, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar meneruskan pendidikannya di Belanda itu. Ia masuk Sekolah Hukum di Batavia (sekarang Jakarta). Mula-mula menumpang di rumah Mulia, direktur sekolah pendidikanguru di Jatinegara. Kemudian pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Ia ditampung teman sependidikan yang beberapa tahun lebih tua darinya, Mr. Muhammad Yamin.</p>
<p><em>Oktober 1928</em>: Sebagai wakil &#8220;Pemuda Batak&#8221; (Jong Batak) Amir duduk sebagai bendahara panitia penyelenggara Kongres Pemuda Ke-2 yang berlangsung di Jalan Kramat 106.</p>
<p><em>1928-1930</em>: Pemimpin Redaksi <em>Indonesia Raja</em>, majalah Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI).</p>
<p><em>24 Mei 1929</em>: Baginda Soripada diangkat sebagai juru tulis pemerintah daerah Batak di Tarutung.</p>
<p><em>1929-1930</em>: Amir duduk dalam pengurus Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatera).</p>
<p><em>1931</em>: Menjadi propagandis Partindo sejak berdirinya partai ini. Ia mulai lebih giat mengikuti kelompok-kelompok diskusi Kristen.</p>
<p><em>14 Juni 1931</em>: Ibu Amir meninggal menggantung diri di dapur rumahnya di Tarutung.</p>
<p><em>15 Juli 1931</em>: Amir menjadi wakil ketua Partindo cabang Jakarta urusan penerbitan.</p>
<p><em>1931-1933</em>: Amir menggantikan Arnold Mononutu, pendiri universitas rakyat Perguruan Rakyat, sebagai kepala pendidikan.</p>
<p><em>Januari 1932</em>: Ikut serta dalam Kongres ke-3 Indonesia Muda di Surabaya.</p>
<p><em>15-17 Mei 1932</em>: Kongres ke-1 Partindo (Jakarta). Sartono dipilih sebagai ketua, dan Amir pengurus bagian &#8220;sekolah dan pendidikan&#8221;.</p>
<p><em>4-19 April 1933</em>: Kongres ke-2 Partindo (Surabaya). Sukarno ketua, Sartono wakil ketua ke-1, Amir wakil ketua ke-2 dan wakil ketua &#8220;komite tetap&#8221; (sekretariat politik). Ia penanggung jawab komisi sekolah dan pendidikan. Ia membantu gerakan perlawanan terhadap peraturan pelarangan terhadap yang dinamakan &#8220;sekolah liar&#8221;.</p>
<p><em>30 Maret 1933</em>: Terbit karangan anonim berjudul &#8220;Massa Actie&#8221; dalam <em>Banteng</em>, majalah Partindo cabang Jakarta yang di bawah pimpinan Amir. Penulis karangan ini sebenarnya Muhammad Yamin.</p>
<p><em>10 Oktober 1933</em>: Penuntut Umum melalui Gubernur Jenderal menuntut hukuman internir bagi Amir, yaitu pengasingan di dalam negeri.</p>
<p><em>25 Oktober 1933</em>: Soripada dinaikkan jabatannya di kantor register Balige.</p>
<p><em>5 Desember 1933</em>: Amir lulus ujian akhir.</p>
<p><em>7 Desember 1933</em>: Amir dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena kejahatan pers (karangan &#8220;Massa Actie&#8221; tersebut di atas). Ia ditahan 6 bulan di penjara Struiswijk (Salemba, Jakarta), dan 1 tahun di Sukamiskin (Bandung). Hukuman penjara ini membatalkan tuntutan hukuman internir tersebut.</p>
<p><em>22 Maret 1935</em>: Departemen Kehakiman minta Gubernur Jenderal agar Amir diinternir begitu bebas dari penjara.</p>
<p><em>5 Juni 1935</em>: Amir dibebaskan sesudah Dewan Hindia memeriksa berkas perkaranya. Kepadanya diperingatkan, sewaktu-waktu bisa diinternir jika ternyata ia mengulang melakukan kegiatan politik.</p>
<p><em>16 Oktober 1935</em>: Menyimpang dari hukum adat Batak, Amir mengawini gadis sesama marga bernama Djaenah (1911-1987), di gereja Kristen Gang Kernolong Jakarta. Amir dan Djaenah (anak dari suami-istri beragama Islam) konon dipermandikan menjelang saat perkawinan mereka.</p>
<p><em>Medio 1935-medio 1936</em>: Musso di Surabaya mencari kontak dengan pimpinan Partindo setempat, mungkin juga dengan sementara tokoh lain termasuk Amir.</p>
<p><em>9-13 April 1936</em>: Kongres Perguruan Rakyat (Jakarta); Sumanang dipilih sebagai ketua, dan Amir wakil ketua.</p>
<p><em>5 Juni 1936</em>: Nomor perdana harian <em>Kebangoenan</em>. Dewan redaksi: Muh. Yamin (pimpinan umum), Sanusi Pane (ketua redaksi), Liem Koen Hian dan Amir (staf redaksi).</p>
<p><em>September 1936</em>: Nomor perdana berkala bulanan <em>Ilmoe dan Masjarakat </em>yang memuat karangan Amir &#8220;Pemberontakan di Spanyol dan Hukum Internasional&#8221;.</p>
<p><em>24 Mei 1937</em>: Berdirinya Gerindo, A.K. Gani ketua. Amir anggota pimpinan urusan propaganda.</p>
<p><em>5 Oktober 1937-11 Mei 1939</em>: Amir duduk di komite pusat &#8220;Petisi Sutardjo&#8221;.</p>
<p><em>3 Desember 1937</em>: Terdaftar sebagai pengacara pada Mahkamah Agung (Hooggerechtshof). Praktek pengacara di Sukabumi sampai Agustus 1938, kemudian kembali ke Jakarta.</p>
<p><em>13 Desember 1937</em>: Terbit buletin pertama kantor berita Antara, yang didirikan oleh Sumanang dan A.M. Sipahutar. Amir sebagai koresponden politik dan konsultan hukum kantor berita ini.</p>
<p><em>25-28 Juni 1938</em>: Kongres Bahasa Indonesia di Solo. Amir berbicara dengan makalah tentang &#8220;Adaptasi kata-kata asing dan konsep-konsep ke dalam bahasa Indonesia&#8221;. Ia duduk sebagai wakil ketua panita kongres urusan pelaksanaan keputusan kongres.</p>
<p><em>20-24 Juli 1938</em>: Kongres pertama Gerindo (Jakarta). Gani ketua, Amir wakil ketua (sementara itu ia masih di Sukabumi).</p>
<p><em>Oktober 1938</em>: Kembali ke Jakarta Amir menjadi ketua komite tetap Partindo.</p>
<p><em>Oktober 1938</em>: Nomor perdana majalah bulanan politik <em>Toedjoean Rakjat</em>; dewan redaksi: Amir Sjarifuddin, Asmara Hadi, A.M. Sipahutar, dan Wikana.</p>
<p><em>November 1938</em>: Amir dan Sanusi Pane menjadi calon Partindo di Volksraad untuk daerah pemilihan Jakarta. Tetapi tidak seorang pun dari calon partai ini dipilih atau diangkat.</p>
<p><em>1938-1941</em>: Amir sebagai salah seorang ketua redaksi majalah sastra <em>Poedjangga Baroe</em>, menulis karangan-karangan tentang politik internasional.</p>
<p><em>2 April 1939</em>: Amir dicalonkan Partindo untuk pemilihan dewan kotapraja Jakarta tanggal 26 April 1939. Yamin, calon terpilih dari Sumatra Barat untuk Volksraad, menentang pencalonan Amir.</p>
<p><em>26 April 1939</em>: Amir mendapat 241 suara (dari 1430); namanya dihapus pada pemilihan babak ke-2, dan Yamin mendapat 170 suara.</p>
<p><em>21 Mei 1939</em>: Pembentukan GAPI, Amir duduk di sekretariat.</p>
<p><em>21 Juli 1939</em>: Yamin mendirikan Parpindo (Partai Persatuan Indonesia).</p>
<p><em>24-30 Juli 1939</em>: Kongres ke-2 Gerindo (Palembang), Amir dipilih sebagai ketua, Wilopo wakil ketua komite tetap. Kongres memutuskan, membuka kesempatan semua penduduk Indonesia, termasuk keturunan Cina, duduk dalam pimpinan partai.</p>
<p><em>23-25 Desember 1939</em>: Kongres Rakyat Indonesia. Makalah Amir berjudul &#8220;Adat dan pergerakan&#8221;. Ia menandatangani manifesto kongres sebagai Ketua Gerindo.</p>
<p><em>10 Mei 1940</em>: Amir diinterogasi sehari penuh oleh intelijen pilitik Belanda (PID; Politieke Inlichtingen Dienst, Dinas Pengawasan Politik).</p>
<p><em>12 Juni 1940</em>: Pemilihan dewan kotapraja Jakarta baru. Terjadi perundingan-perundingan untuk menggagalkan pencalonan Amir oleh GAPI, karena Parindra menolak pencalonannya itu. Amir mendapat 359 suara, dan calon Parindra 698 suara.</p>
<p><em>20-27 Juni 1940</em>: Amir ditangkap dan ditahan, sehubungan dengan penyelidikan yang sedang dilakukan terhadap tersiarnya buletin-buletin Komunis.</p>
<p><em>28 Juni-20 Juli dan 25-27 Juli 1940</em>: Kampanye menentang Thamrin dilancarkan Moh. Tabrani di dalam korannya <em>Pemandangan</em>. Thamrin dituduh tidak membantu Amir selama ia di dalam tahanan.</p>
<p><em>21 Juli 1940</em>: Gani mengganti Amir sebagai wakil Gerindo dalam sekretariat GAPI.</p>
<p><em>Agustus 1940</em>: Kongres ke-3 Gerindo yang direncanakan di Semarang diundur, karena berlakunya SOB (Staat van Oorlog en Beleg; Keadaan Darurat Perang). Dalam daftar calon anggota komite eksekutif, yang akan dipilih dengan kartu suara melalui pos, tidak tercantum nama-nama Amir dan Wikana. Edaran partai menyatakan, tidak tercantumnya nama mereka karena permintaan yang bersangkutan.</p>
<p><em>September 1940</em>: Amir bekerja di kantor perdagangan luar negeri Departemen Perekonomian, untuk urusan informasi dan dokumentasi. Di sini ia menerbitkan majalah mingguan <em>Economisch Weekblad</em> (Berkala Mingguan Ekonomi).</p>
<p><em>Oktober 1940</em>: Pemungutan suara Gerindo melalui pos memilih Gani sebagai ketua partai dan Sartono ketua komite tetap.</p>
<p><em>1940-1941</em>: Amir duduk di dewan redaksi penerbitan Marcel Koch, <em>Kritiek en Opbouw </em>(Kritik dan Pembangunan).</p>
<p><em>10-12 Oktober 1941</em>: Kongres ke-3 Gerindo (Jakarta). Kedudukan Gani dan Sartono pada pimpinan partai dikukuhkan lagi. Tetapi pencalonan Amir dan Wikana, yang diusulkan cabang Jakarta, untuk duduk di komite partai ditolak.</p>
<p><em>20-24 Oktober 1941</em>: Konperensi Perhimpunan Misi di Hindia Belanda (NIZB) diadakan di Karangpandan. Amir bicara tentang perlu dan tidaknya partai Kristen berdiri. Masalah ini menimbulkan polemik dalam pers. Amir tetap di dalam Gerindo, sesudah ia mempertanggungjawabkan pendiriannya di depan pengurus.</p>
<p><em>Desember 1941</em> (?): Amir menerima tawaran sekretaris kabinet Gubernur Jenderal, P.J. Idenburg, dan juga C.o. van der Plas untuk menyusun jaringan informasi sekitar invasi Jepang.</p>
<p><em>Maret-Juni 1942</em>: Amir menyembunyikan diri.</p>
<p><em>Juli 1942</em>: Amir muncul di Jakarta. Ia mengajar sosiologi, psikologi dan filsafat ketimuran pada kader-kader muda pergerakan, Angkatan Baru Indonesia, di Jalan Menteng 31 Jakarta.</p>
<p><em>September 1942</em>: Amir mengetuai panitia pembentukan Persatuan Kaum Kristen.</p>
<p><em>Desember 1942</em>: Amir menjadi anggota kelompok &#8220;7 S&#8221; wakil Kristen, atas penunjukan Shimizu Hitoshi.</p>
<p><em>30 Januari 1943</em>: Amir ditangkap Kempetai (intelijen politik Jepang).</p>
<p><em>Januari 1943-Desember 1944</em>: Ditahan di penjara Cipinang Jakarta dan penjara Kalisosok Surabaya.</p>
<p><em>29 Februari 1944</em>: Dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Hukuman tidak dilaksanakan (karena intervensi Sukarno dan Hatta?).</p>
<p><em>17 Desember 1944-1 Oktober 1945</em>: Di dalam penjara Lowok Waru Malang.</p>
<p><em>4 Desember 1945</em>: Diangkat sebagai menteri penerangan in absentia oleh Sukarno.</p>
<p><em>2 Oktober 1945</em>: Kembali ke Jakarta. Memangku jabatan sebagai menteri.</p>
<p><em>17 Oktober 1945</em>: Pembentukan BP-KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat). Amir dipilih sebagai wakil ketua (Sjahrir ketua).</p>
<p><em>24 Oktober 1945</em>: Sebagai menteri, melalui radio, ia membuka Kongres Pemuda di Yogyakarta 10-11 November 1945.</p>
<p><em>26 Oktober 1945</em>: Rapat umum pemuda &#8220;revolusioner&#8221; di Yogyakarta dengan maksud mendirikan partai sosialis. Nama-nama yang dipilih sebagai pimpinan akhirnya ialah Amir, Sjahrir, dan Hindromartono.</p>
<p><em>12-13 November 1945</em>: Kongres fraksi Partai Sosialis Indonesia (PARSI) di Yogyakarta memilih Amir sebagai ketua.</p>
<p><em>14 November 1945</em>: Pembentukan pemerintah Sjahrir; Amir sebagai menteri penerangan dan pertahanan.</p>
<p><em>Desember 1945</em>: Konperensi di Cirebon melebur PARSI dan PARAS (Partai Rakyat Sosialis, yang didirikan Sjahrir pada 20 November 1945). Partai baru ini dinamakan Partai Sosialis; Amir salah seorang di antara para pimpinannya.</p>
<p><em>28 Desember 1945</em>: Mobil Amir dibakar, di luar rumah Sukarno.</p>
<p><em>1 Januari 1946</em>: Amir diganti Moh. Natsir sebagai menteri penerangan.</p>
<p><em>4 Januari 1946</em>: Karena Jakarta tidak aman lagi, Amir pindah ke Yogyakarta, untuk memangku jabatan sebagai menteri pertahanan. Ia bergabung dengan Sukarno, Hatta, dan beberapa pimpinan pemerintahan lainnya, Sjahrir tetap di Jakarta.</p>
<p><em>24 Januari 1946</em>: Dibentuk Staf Pendidikan Tentara dalam Kementrian Pertahanan. Timbul ketidak-senangan pada sementara kalangan perwira panglima, karena memandangnya sebagai staf pendidikan politik.</p>
<p><em>17 Maret 1946</em>: Tan Malaka dan Sukarni ditangkap, dengan tuduhan mengganggu ketirtiban umum, menjelang berlangsungnya kongres Persatuan Perjuangan di Madiun. Dikeluarkan komunike bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan, &#8220;Tindakan dalam Masa Genting&#8221;, berkenaan dengan masalah ketertiban umum itu.</p>
<p><em>10 April 1946</em>: Pidato Amir di Medan, tentang penangkapan bulan Maret tersebut, menekankan perlunya masyarakat mendukung negara, pemerintah dan tentara sebagai institusi.</p>
<p><em>25 Mei 1946</em>: Pembentukan Biro Perjuangan, yang memungkinkan Menteri Pertahanan melakukan kontrol dan koordinasi terhadap berbagai kesatuan lasykar bersenjata. Pimpinan tentara pemerintah menerima badan baru ini dengan enggan.</p>
<p><em>9 Juni 1946</em>: Kongres Pemuda Ke-2 di Yogyakarta. Amir memperingatkan pemuda, sebagai pelopor revolusi, agar tidak sampai dipisahkan revolusi itu.</p>
<p><em>27 Juni-6 Juli 1946</em>: &#8220;Peristiwa 3 Juli&#8221;. Beberapa pengikut Tan Malaka menculik atau mencoba menculik sementara menteri dan pejabat tinggi, termasuk Amir dan Sjahrir. Tujuannya untuk memaksa Sukarno agar menyusun pemerintahan, dengan Persatuan Perjuangan sebagai unsur pokok. Usaha ini akhirnya mengalami kegagalan.</p>
<p><em>6-10 September 1946</em>: Kongres Partai Sosialis di Yogyakarta. Kongres memilih tiga tokoh ketua, yaitu Sjahrir, Oei Gee Hwat, dan Amir.</p>
<p><em>Maret-Juni 1947</em>: Sesudah Persetujuan Linggajati, krisis di kalangan pimpinan negara dan pimpinan Partai Sosialis semakin tajam. Masalah penyebabnya ialah, cara bagaimana menghadapi tuntutan-tuntutan baru dari pihak Belanda.</p>
<p><em>27 Juni 1947</em>: Pemerintah Sjahrir jatuh.</p>
<p><em>30 Juni 1947</em>: Sukarno menghendaki terbentuknya pemerintah koalisi, dan menunjuk sebagai formatur Amir (Sosialis), Gani (PNI), Setiadjit (Partai Buruh), dan Sukiman (Masjumi). Karena tuntutan-tuntutan Sukiman, akibatnya terbentuk pemerintah tanpa Masjumi.</p>
<p><em>3 Juli 1947</em>: Dalam kabinet baru ini Amir sebagai Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan; Gani dan Setiadjit Wakil-Wakil Perdana Menteri. Terjadi perpecahan di kalangan pimpinan Partai Sosialis. Golongan Sjahrir menolak duduk dalam kabinet. Dibentuk sekretariat darurat untuk menyelamatkan keutuhan Partai.</p>
<p><em>21 Juli 1947</em>: &#8220;Aksi polisionil&#8221; Belanda.</p>
<p><em>4 Agustus 1947</em>: Seruan gencatan senjata dari PBB.</p>
<p><em>27 Oktober 1947</em>: Komisi Jasa-Jasa Baik PBB tiba di Jakarta.</p>
<p><em>11 November 1947</em>: Wakil-wakil Masjumi duduk dalam kabinet.</p>
<p><em>8 Desember 1947</em>: Perundingan gencatan senjata di atas kapal &#8220;Renville&#8221;. Amir ketua delegasi Indonesia.</p>
<p><em>23 Desember 1947</em>: Karena perundingan menghadapi jalan buntu, Amir kembali ke Yogyakarta.</p>
<p><em>Awal Januari 1948</em>: Tersiar desas-desus kabinet akan segera jatuh.</p>
<p><em>7 Januari 1948</em>: Delegasi kembali ke Jakarta.</p>
<p><em>13 Januari 1948</em>: Konperensi semua pimpinan partai politik dan departemen-departemen pemerintah berlangsung di Yogyakarta.</p>
<p><em>15 Januari 1948</em>: Menteri-menteri Masjumi mengundurkan diri, diikuti para menteri PNI.</p>
<p><em>16 Januari 1948</em>: Perdana Menteri memberi laporan pada BP-KNIP.</p>
<p><em>17 Januari 1948</em>: Konperensi pers Perdana Menteri: &#8220;Pengunduran itu hanya untuk sementara. Saya tidak akan mengangkat menteri baru seorang pun&#8221;. Penandatanganan naskah gencatan senjata dengan pihak Belanda di atas kapal &#8220;Renville&#8221;.</p>
<p><em>22 Januari 1948</em>: Deklarasi menteri-menteri Sayap Kiri/Front Demokrasi Rakyat, yang disiapkan oleh komite penghubung tetap partai-partai kiri (disiarkan radio sehari kemudian).</p>
<p>Sukarno mengumumkan pengunduran diri pemerintah Amir, dan menunjuk Wakil Presiden Moh. Hatta membentuk pemerintah baru.</p>
<p><em>23-29 Januari 1948</em>: Dengar pendapat untuk pembentukan kabinet baru. Hatta menawarkan memberi tiga kursi kelas dua pada Sayap kiri, antara lain jabatan Menteri Pemuda untuk Amir. Sayap Kiri menolak tawaran itu.</p>
<p><em>24 Januari 1948</em>: Gelombang pertama demonstrasi mendukung Amir di Yogyakarta. Kemudian juga satu kali di Madiun.</p>
<p><em>4 Februari 1948</em>: Amir hadir pada upacara pelantikan kabinet Hatta.</p>
<p><em>4-9 Februari 1948</em>: Amir mengikuti Hatta meninjau Sumatra dan Jakarta.</p>
<p><em>10 Februari 1948</em>: Sidang pertama kabinet Hatta.</p>
<p><em>26 Februari 1948</em>: Rapat umum pertama FDR (Front Demokrasi Rakyat) di Solo. Rapat menyerang karakter kabinet presidentil.</p>
<p><em>21 Maret 1948</em>: Amir memberi kesaksian dalam pengadilan Peristiwa 3 Juli 1946; ia tetap pada pendirian yang pernah dikemukakannya pada saat peristiwa terjadi.</p>
<p><em>11 Agustus 1948</em>: Musso di Yogyakarta. Menganjurkan agar partai-partai dalam FDR bersatu di bawah pimpinan Partai Komunis.</p>
<p><em>29 Agustus 1948</em>: Pemimpim-pemimpin Partai Sosialis menerima anjuran Musso, dan mengadakan kongres luar biasa pada 29-30 September 1948.</p>
<p><em>30 Agustus 1948</em>: Amir menyatakan telah menjadi anggota Partai Komunis sejak partai ini dibangun kembali Musso tahun 1935. Mengingat pertanggungjawaban masalah perlawanan dalam peta organisasi PKI sementara setelah dipersatukan.</p>
<p><em>7 September 1948</em>: Amir meninggalkan Yogyakarta bersama Musso, Harjono (ketua SOBSI; Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), dan beberapa tokoh lainnya lagi untuk menghadiri beberapa rapat. Tanggal 7 September di Solo menghadiri kongres serikat buruh gula; taanggal 8 September di Madiun; tanggal 10 dan 11 September di Kediri; tanggal 13 September di Jombang; tanggal 14 September di Bojonegoro; tanggal 15 September di Cepu; tanggal 17 September di Purwodadi, dan di sini Amir bermalam.</p>
<p><em>17-18 September 1948 malam</em>: Sumarsono, ketua komite tetap Kongres Pemuda yang bertempat di Madiun, melucuti semua kesatuan tentara yang dianggapnya mengganggu keamanan umum di kota; dan Residen Sumadikun yang sedang tidak di tempat digantinya dengan Wakil Walikota Supardi (FDR).</p>
<p><em>18-19 September 1948 malam</em>: Amir dan rombongan di Madiun, memenuhi permintaan pimpinan FDR setempat.</p>
<p><em>19 September 1948 petang</em>: Pidato Sukarno mengutuk kudeta &#8220;PKI-Musso&#8221;, dan berseru pada golongan loyalis untuk merebut kembali Madiun.</p>
<p><em>23 September 1948</em>: Pidato Amir melalui radio Madiun menolak tuduhan kudeta kaum Komunis di Madiun, dan berusaha meredakan suasana.</p>
<p><em>30 November 1948</em>: Amir ditangkap batalyon Kemal Idris di Kelambu, Purwodadi, bersama Harjono dan Suripno (bekas menteri). Kemudian dibawa ke penjara Kudus.</p>
<p><em>2 Desember 1948</em>: Interviu Amir di penjara Kudus, terbit di Hidup tanggal 18 Desember. Di situ ia menyangkal tuduhan kudeta yang telah sengaja direncanakannya.</p>
<p><em>4 Desember 1948</em>: Ditahan di Benteng di Yogyakarta, setelah bersama dua kawannya diarak keliling kota.</p>
<p>Medio Desember 1948: Diam-diam Amir dibawa ke Solo.</p>
<p>19 Desember 1948: &#8220;Aksi polisionil&#8221; Belanda ke-2. Yogyakarta diduduki tentara Belanda.</p>
<p>19-20 Desember 1948 malam: Sebelas orang tahanan dieksekusi dengan cepat di Ngalihan dekat Solo. Mereka yang mati ialah Amir, Suripno, Harjono, Maruto Darusman dan Sardjono, semuanya anggota pimpinan sementara PKI baru; Oei Gee Hwat dari Badan Harian SOBSI; S. Karno dari pimpinan Pesindo; Djokosujono, mantan kepala Biro Perjuangan di Kementrian Pertahanan; serta tiga orang tahanan lainnya, yaitu Katamhadi, D. Mangku, Ronomarsono (kacau dengan Sumarsono?). Para mantan menteri dalam kabinet Amir dan beberapa teman dekatnya dieksekusi di berbagai tempat.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p><sup>1)</sup> <em>Mendayung Antara Dua Karang</em>, hal. 97.</p>
<p><sup>2) </sup>catatan: Ejaan nama-nama diri dan peristilahan lama seperti &#8220;hoofddjaksa&#8221; berasal dari jamannya, walaupun &#8220;oe&#8221; Belanda telah diubah menjadi &#8220;u&#8221;, jika bukan soal kutipan, berasal dari dokumen tertulis.</p>
<p>oo0oo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=38&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2010/06/18/amir-sjarifuddin-antara-negara-dan-revolusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/04/06/29/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/04/06/29/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 09:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[nikmati setiap nafas islam yang mengalir dalam tubuh yang penuh dengan kemunafikan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=29&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_28" class="wp-caption alignnone" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-28" title="illank" src="http://domestifikasi.files.wordpress.com/2009/04/illank.jpg?w=225&#038;h=300" alt="menatap realitas semu" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">menatap realitas semu</p></div>
<p>HmI harus kembali kebarak, dan membuka semua virus yang menjerat dan berkarat dalam kader hijau hitam, kalo bukan generasi sekarang siapa lagi yang mau mengubah kondisi HmI yang telah berada diambang pintu kehancuran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=29&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/04/06/29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://domestifikasi.files.wordpress.com/2009/04/illank.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">illank</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filsafat Pisau tapi tumpul tanpa LOGIKA</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/18/filsafat-pisau-tapi-tumpul-tanpa-logika/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/18/filsafat-pisau-tapi-tumpul-tanpa-logika/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 07:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[socrates berjalan kearah kaum sofis, dan berbicara untuk menaklukkan keangkuhan Kaum Sofis
yang merasa ok tahu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=20&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dalam forum-forum ilmiah banyak ada banyak karater termauk</p>
<p>orang yang merasa banyak tahu, sdangkan yang dimilikinya</p>
<p>hanyalah kosong.</p>
<p>Filsafat sebuah kerangka Pengetahuan untuk membanguna kemanusiaan</p>
<p>kekinian.</p>
<p>klik disini kajian filsafat <a href="/ARTIKEL-Q/Filsafat.ppt">file:///D:/ARTIKEL-Q/Filsafat.ppt</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=20&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/18/filsafat-pisau-tapi-tumpul-tanpa-logika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Download Teori Demokrasi</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/17/download-teori-demokrasi/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/17/download-teori-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 08:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Nation State]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[DEMOKRASI ADALAH SOLUSI DARI PROBLEM SOSIAL Oleh : Muh. Ilham Yasin Pernahkah anda merenungkan makna dari sebuah realitas sosial??hakekat dari realitas sosial adalah system yang bersifat abadi kemudian mengalami proses degradasi ke sub system yang lebih mikro yang sampai seterusnya. Namun anehnya system abadi dianggap suatu keterpisahan denga sub system, hampir semua tak mampu menafsirkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=16&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:115%;">DEMOKRASI ADALAH SOLUSI DARI PROBLEM SOSIAL</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong>Oleh :</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong>Muh. Ilham Yasin</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pernahkah anda<span> </span>merenungkan makna dari <span> </span>sebuah realitas sosial??hakekat dari realitas sosial adalah system yang bersifat<span> </span>abadi kemudian mengalami proses degradasi<span> </span>ke sub system <span> </span>yang lebih mikro yang sampai seterusnya. Namun anehnya system abadi dianggap suatu keterpisahan denga sub system, hampir<span> </span>semua tak mampu menafsirkan tentang hal itu, mereka mempersulit kehidupan mikro yang sebenarnya jawaban dari pertanyaan telah dihidangkan dalam gesekan realitas .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Gesekan dari realitas tersebut menghasilkan sebuah Percikan, salah satunya tentang<span> </span>sistem Demokrasi. Demokrasi yang awalnya hanyalah teori yang sulit untuk dirunut dan diterjemahkan dalam interaksi social, namun wacana ini kemudian menjadi bahan konsumsi teori dari para pemikir negera untuk menjawab kebutuhan dari realitas sosial. Didalam proses perkembangan Demokrasi mengalami sebuah kesempuranaan system, yang pertama memperkenalkan teori ini adalah Soscrates, namun pemikiran beliau hanya mampu dijabarkan oleh Plato, karena Socraetes tidak meninggalkan teks satu pun sehingga nama Socrates dikenal melalui ceramah Plato.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Plato 469-399 SM memperkenalkan tentang system interaksi social<span> </span>dalam bukunya <strong><em>The Republik</em></strong>, bahwa ada beberapa karakter dari warga Negara yaitu karakter manusia Oppurtunis dan karakter manusia yang kemana pun angin bertiup. Beliau juga mengatakan bahwa “ mana kala kita mendirikan kota, bahwa bila seorang itu tidak mempunyai sifat transendensi diri, ia tak akan menjadi baik kalau sejak masa anak-anak, permainannya tidak luhur dan semua kebiasaannya tidak luhur juga, betapa seenaknya Rezim itu menginjak-injak semua ini dibawah kakinya sama sekali tidak menghiraukan kebiasaan mana seorang terjun ke politik itu, melainkan menghormatinya asal ia berkata bahwa ia setuju dengan banyak. Demokrasi yang mempunyai sifat-sifat yang bebeda tetapi menetapkan kesamaan tertentu.<span> </span>” demikian pemikiran Plato kemudian dikembangkan oleh banyak<span> </span>muridnya, salah satunya adalah Aristoteles.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Aristoteles 384-322 SM, mencoba lebih dalam mengkaji, mengkaji tentang system social secara komperehensif yang mengenai berbagai bentuk pemerintahan, arti kewarganegaraan dan peran pendidikan dalam kehidupan Politik. Menurut Aristoteles, suatu bentuk Negara boleh disebut baik, jika diarahkan pada kepentingan umum yakni semua kepentingan kepentingan individu yang mampu diakomadasi. Sedangkan bentuk negara yang buruk apabila diarahkan pada kepentingan penguasa. Menurut Aristoteles bahwa Ada enam bentuk Negara, tiga yang baik dan tiga yang buruk masing-masing adalah Tirani, oligarki dan demokrasi<span> </span>dan<span> </span>yang <span> </span>termasuk bentuk Negara yang buruk dan yang tergolong Negara yang baik adalah Monarki, Aristokrasi, dan Politea.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dalam menilai bentuk Negara yang baik beliau berpendapat monarki hanya sah apabila orang yang kecerdesannya melebihi semua orang yang patut dicontoh kebijaksanannya, tetapi kenyataannya sangat sulit orang demikian sehingga monarki mudah terjeurumus kedalam Tirani. Aristokrasi pemerintah dipercayakan kepada segelintir orang yang mutlak dianggap paling baik, sama halnya dengan oligarki sangat sulit untuk menemukan orang seperti ini, maka Politea dipandang bentuk Negara paling baik dalam politik dengan istilah politeia hamper sama dengan makna demokrasi moderat, demokrasi dengan undang-undang dasar. Para warga Negara yang menganut system ini yang dapat menjadi pemimpin itu berasal dari golongan menengah, karena dari golongan menengah yang mampu untuk menyeimbangkan semua kepentingan. Hal ini yang mendasari lahirnya demokrasi konstitusional pada zaman modern, pokok pemikiran Aristoteles tentang Demoraksi adalah kebebasan pribadi, pemerintahan yang berdasarkan undang-undang dasar/konstitusi dan adanya kelas menengah yang besar. Menurut Aristoteles bahwa landasan Negara Demokrasi adalah kebebasan, kebebasan yang berarti bahwa pendapat orang pada umumnya<span> </span>hanya mampu dinikmati oleh Negara, dan prinsip kebebesan adalah setiap orang wajib memerintah dan diperintah dan memang demokrasi merupakan penerapan persamaan jumlah bukan proporsi, dari sinilah penafsiran bahwa hanya kaum mayoritaslah yang memiliki kekuasaan tertinggi dan apapun yang disetejui oleh mayoritas harus memiliki menjadi tujuan dan adil. <span> </span>Setelah beberapa fase perkembangan intelektual Yunani, <em>script-script</em> para pemikir dan seniman social lebih banyak menghabiskan energy membahas subtansi dari demokrasi, seorang seniman yang juga dikenal sebagai pemikir kebebasan yang bernama John Milton (1608-1674) mengatakan ia menghancurkan bukan membangun dan ia tidak menunjukkan cintanya terhadap kebebasan mealinkan terhadap penguasa, dari sinilah melahirkan suatu konsep kebebasan yang bernama Areopagatica, John Milton menyerukan tentang kebabesasn berbicara untuk melawan kevakuman system kerajaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Menurut John Milton bahwa bagaimana cara mengetahui baik dan buruk ketika tidak pernah melalui, kenapa buku-buku yang dianggap buruk itu dibakar itu sama dengan mengajarkan nilai keburukan. Seharusnya hal yang dilakukan adalah memberikan kebebasan pemikir untuk mengejewantahkan pemikirannya melalui teks kemudian disebarkan untuk sebuah pencerahan supaya Rakyat tahu untuk membandingkan antara kebenaran dan keburukan. John Milton berhasil memproklamirkan sebuah arti kebebasan, dengan kebebasan orang mampu berkreasi dan berapresiasi untuk sebuah kemajuan. Setelah John Milton hadir pemikir demokrasi lainnya yaitu John Locke.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">John Locke <span> </span>(1632-1704) dikenal sebagai bapak demokrasi modern karena telah berhasil membangun pilar demokrasi dan mengenai Toleransi beragama (plusalisme) dia juga tela mampu <span> </span>memetakan dua bentuk masyarakat yang pertama masyarakat sipil dan masyarakat politik, dia juga dikenal sebagai sang pembebas Amerika. Menurut dia bahwa setia manusia dilahirkan pasti memiliki hak ata kebebasan sempurna dan hak untuk menikmati tak terbatas, semua hak-hak dan prevelise kodrat juga pada hakekatnnya setiap manusia mempunyai wewenang untuk menentukan dan menghukum pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan orang dari luar dirinya. Berangkat dari sebuah kejadian tentang kebebasan setiap manusia mka perlu ada yang yang mampu untuk menjadi benang merah untuk menyambungkan semua kepentingan masyarakat, dan ini disebut oleh John Locke sebagai masyarakat Politik dan sebagai penerima hukum adalah masyarakat non politik atau sipil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Masyarakat Politik yang berarti dimana setiap orang menyerahkan kekuasaan kodratinya untuk meminta perlindungan hukum tanpa ada pengecualian, dengan demikian setelah semua penghakiman pribadi masing-masing anggota dikesampingkan, masyarakat itulah sendiri menjadi wasit karena merurut peraturan yang telah mapan, tidak memihak dan sama bagi semua. Dengan demikian masyarakat tersebut berhak membuat undang-undang dan menentukan hukuman bagi pelanggaran yang mereka anggap pantas, yang telah dilakukan oleh anggota masyarakat tersebut, inilah sejarah lahirnya<span> </span>Legislatif, dan masyarakat mempunyai wewenang untuk menguhukum setiap kejahatan yang dilakukan oleh anggotanya, inilah wewenang untuk menentukan perang atau damai atau ekskutif.<span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Setelah John Locke muncul pemikir yang bernama Charles De Montesquieu pola pemikirannya yaitu suatu analisis yang menyeluruh tentang sistem politik dan kebudayaan, geografi dan sejarahnya. Montesuquieu lebih memperdalam tentang analisis fungsi pemerintah, legislative, ekskutif dan yudikatif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Pemikiran tentang fungsi pemerintah menurut beliau adalah peletakan konstitusi Negara untuk menjaga keseimbangan jalannya pemerintahan yang adil dan bijak serta mampu mengakomodasi kepentingan Rakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Dari penjabaran sebagian dari teori-teori<span> </span>sosial tentang konsep Demokrasi dapat membuka tabir keteraturan dalam suatu bangsa, maka<span> </span>Indonesia<span> </span><span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=16&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/17/download-teori-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari jejak</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/16/mencari-jejak/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/16/mencari-jejak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/16/mencari-jejak/</guid>
		<description><![CDATA[OLEH MUH ILHAM YASIN “ Demokrasi adalah polesan pemikiran kritis dari konsep madani, demokrasi ini bukan dari Eropa ” Sejak tahun 1908-2008 kaum muda tidak pernah kehilangan jiwa progresif dan revolusiener mereka meremas realitas dengan kekuatan intelektualitas untuk melepas realitas tertindas. kemerdekaan bangsa ini semakin dewasa, namun kedewasaan yang didapatkan hanyalah kedewasaan ketertindasan, hal ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=14&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&quot;">OLEH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&quot;">MUH ILHAM YASIN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:26pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">“ Demokrasi adalah polesan pemikiran kritis dari konsep madani, demokrasi ini <span> </span>bukan dari Eropa ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sejak tahun 1908-2008 kaum muda tidak pernah kehilangan jiwa progresif<span> </span>dan revolusiener mereka meremas realitas dengan kekuatan intelektualitas untuk melepas realitas tertindas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>kemerdekaan bangsa ini semakin dewasa, namun kedewasaan yang didapatkan hanyalah kedewasaan ketertindasan, hal ini saya anggap bukan subtansi dari potensi madani, Konsep madani yang pertama kali dibumikan oleh nabiullah Muhammad SAW dikota Yastrib yang sekarang menjadi kota Madina menjadi bahan referensi untuk mencari solusi kemslahatan ummat (NEGARA),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">konsep madani adalah konsep yang paling ideal dalam hal kemsyarakatan,yang mengatur segala aturan berkenegaraan didalam konsep madani ini didalamnya termaktub Piagam Madina, piagam Madina kemudian menjabarkan konsep tersebut untuk memberikan pemahaman hidup secara plural, namun,<span> </span>seiring berjalannya hari, konsep madania secara terus-menerus mengalami pergeseran paradigma. banyak pemikir berusaha menafsirkan konsep itu dalam realtas, namun tak ada satu pun yang mampu menginterpretasikan kedalam ruang sosial saat ini, mulai dari pemikiran Sosrates, Plato, dan Aristoteles sampai John Locke, Montesqiueo, max weber dan para pemikir lainnya hanya hanya mampu memahami sebahagian dari konsep Madani atau dikenal civil society.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sebenarnya konsep madani erat kaitannya dengan prisipil demokrasi sempurna dan sejati. Karena menurut Montesqiau bahwa syarat terbentuknya demokrasi ketika trias politika telah terpenuhi <span> </span>dan mewujud menjadi prinsip bernegara yang paling hakiki dalam bermasyrakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Prinsip demokrasi tidaklah lepas dengan adanya pengaruh ideologi-ideologi tertentu dalam satu wilayah sehingga sulit untuk mewujudkan civil society, karena dalam satu negara terdapat dua ideologi dunia yang tak henti-hentinya bertarung yaitu kapitalis dan sosialis. Di Indonesia pada awal tahun kemerdekaan 1945 Ir Soekarno mencoba menerapkan ideologi sosialis di Indonesia<span> </span>dengan mengeluarkan kebijakan Triskati Pembangunan salah satunya adalah Ekonomi Mandiri Yaitu pengelolaan hasil alam di tanggung oleh negara dan membuat proteksi terhadap negara lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Cita-cita ideal<span> </span>Presiden pertama tak kunjung terkabulkan dikarenakan para tuan-tuan pemilik modal ketakutan akan perusahaan mereka mengalami kerugian mereka bahkan membuat skenario kudeta untuk kejatuhkan kedudukan Soekarno, dan para pemilik modal memberikan kepercayaan pada kapten Suharto untuk mengambil alih kekuasaan sebagai pengambil kebjakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Awal runtuhnya bangunan Sukarno di Indonesia tahun 1955-1970 itu ditandai dengan terjadinya devaluasi dan inflasi sehingga harga barang dan bahan pokok membungbung tinggi mengakibatkan rakyat sulit memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penderitaan rakyat tak lagi dapat terbendung, negara tak dapat lagi mengatasi permasalahan rakyatnya maka yang terjadi kekacauan, pemerkosaan, pembunuhan dan perampokan terjadi dimana-mana. Wal hasil skenario perencanaan kudeta oleh kaum kapitalis berhasil diwujudkan mengakibatkan berakhirnya pemerintahan yang beranut sosialis juga hadirya pemerintahan baru yang dikenal order baru (develomentalis) yang menganut ideologi kapitalis. Tragedi bersejarah di Indonesia ditahun 1966 hampir menyerupai kejadian yang terjadi di Amerika yaitu kudeta pada tahun 1930-an presiden Amerika Franklin D.Roosevelt yang <span> </span>tidak berpihak pada pemilik modal. Saat itu Amerika mengalami krisis yang menyamai kondisi Indonesia, perekonomian dunia mengalami destabilasasi, teory tentang ekonomi liberal menurut Keynes digugurkan oleh teori baru arena teori tersebut tidak konteks dengan kondisi saat itu,<span> </span>maka untuk terbebas dari ancaman krisis tersebut presiden F.D Roosevelt mengeluarkan solusi dari krisis dunia dengan hadirnya kebijakan-kebijakan anti laissez-faire seperti :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt 96pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Kontrol negara terhadap pelaku pasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt 96pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Regulasi negara terhadap kegiatan ekonomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt 96pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Membuat undang-undang anti penggabungan industri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 0 .0001pt 96pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Membuat peraturan pemerintah mengenai perlidungan buruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Roosevelt ternyata terjadi ketidaksepakatan dengan Pemilik modal, padahal presiden AS hanya ingin mendirikan Welfar state (negara sejahtera) sebagai solusi dari krisis finansial global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Hadirnya ideologi developmentalis yang diterapkan oleh Soeharto diawal pemerintahannya mengakibatkan kehancuran sistem di Indonesia sampai sekarang. Pembangunan terjadi dimana-mana dengan meminjam modal asing untuk kelancaran pembangunan. Investor terbuka lebar untuk menanamkan saham di Indonesia mulai dari Industri sampai Jasa, dari beberapa sektor, sekitar 85% yang ada dalam negeri dikuasai oleh investor asing dan sisanya 15 % saham milik Negara. <span> </span>Jatuhnya Suharto ditahun 1998 bukannya solusi malah menyisahkan hutang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia, bahkan calon bayi Indonesia sudah memiliki hutang akibat Hutang Luar Negeri (HLN) dari bantuan World Bank dan IMF.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Maka untuk keluar dari krisis yang melanda bangsa ini, kita harus kembali menanamkan kearifan lokal dan kemandirian lokal sebagai wujud kecintaan terhadap Indonesia. Demokrasi yang dianut oleh Eropa jauh sebelumnya sudah diterapkan oleh Indonesia, tapi kita melupakan nilai-nilai kebudayaan kita sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Sampai kapan kita terus berada dalam ruang keterpurukan??mari bangkit kawan kita kembali bercermin dari kejayaan kita masa lalu, kejayaan masa lalu ketika ditanamkan pada usia dini maka kelak bangsa kita menjadi welfare state atau civil society. Jepang pernah mengalami hal serupa dengan bangsa kita, sewaktu agenda 3G mulai dijalankan, maka kekaisaran Jepang melakukan proteksi barang yang masuk dinegaranya dan mengembangkan sektor pendidikan dan pertanian untuk kebutuhan dasar masyarakat Jepang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Di Indonesia para petani dianggap miskin karena tidak sesuai dengan standarisai dari pemerintah juga standarisasi WTO. Para petani kita dijadikan sebagai masyarakat termarjinalkan dari bangsa kita. Belum lagi mengenai sistem pendidikan Indonesia yang luar biasa bobroknya, bahkan dijadikan komoditi dan alat hegemoni untuk mempertahankan kekuasaan (status quo).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Sistem pendidikan di Indonesia bukan lagi hak dasar<span> </span>bagi masyarakat Indonesia melainkan suatu sistem pembodohan, tujuan dari pendidikan adalah memerdekakan manusia, jadi hal paling dasar dari kehidupan adalah kemerdekaan. Namun kemerdakaan apa yang ada dibangsa kita??? Kemerdakaan atau ketertidasan???.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Untuk para pemuda yang <span> </span>gila, untuk para pemuda berjiwa malaikat, dan untuk para perempuan yang mendidik anaknya, juga ustad yang memberikan perncerahan, guru yang mengajarkan nilai untuk masa depan, profesor, pejabat saatnya kita merangkai jari-jemari membangun tembok persatuan menemukan kejati diri bangsa dan menjaga keharmonisan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:12pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=14&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/16/mencari-jejak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GITAR BERDARAH, LANTAI JASAD</title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/gitar-berdarah-lantai-jasad/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/gitar-berdarah-lantai-jasad/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 12:50:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/gitar-berdarah-lantai-jasad/</guid>
		<description><![CDATA[Teriakan-teriakan tangis bayi disiang, malam dan pagi hari menjadi hiburan tersendiri bagi tentara zionis, mereka mengekspresikan kesenangannya dengan memetik senar gitar iblis hingga petikan gitar itu terdengar diseluruh dunia. Mereka senantiasa menyanyikan lagu iblis dengan nada yang tak beirama tapi mampu memisahkan ruh dari jasadnya, mereka menari-nari diatas jasad yang penuh lumuran darah sebagai tanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=11&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> Teriakan-teriakan tangis bayi disiang, malam dan pagi hari menjadi hiburan tersendiri bagi tentara zionis, mereka mengekspresikan kesenangannya dengan memetik senar gitar iblis<span> </span>hingga petikan gitar itu terdengar diseluruh dunia. Mereka senantiasa menyanyikan lagu iblis dengan nada yang tak beirama tapi mampu memisahkan ruh dari jasadnya, mereka menari-nari diatas jasad yang penuh lumuran darah sebagai tanda kesenangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">OH…zionis engkau adalah titisan Dajjal yang terkutuk, manifestasi dari semua keburukan, tahukah kau seluruh dunia mendoakanmu untuk kembali kejalan cinta kasih,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Oh zionis…mereka bukan binatang,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Oh Zionis<span> </span>kemana kamanusiaanmu…..</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Apa yang mereka perjuangkan???</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Apa yang mereka inginkan???</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Akankah ini berakhir???kapan???</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Darah dan mayat menjadi tontonan ummat yang berada didunia, tiap detik tentaa zionis berjalan dilantai berlumur darah dan air mata. <span> </span>Udara ditanah palestin berubah menjadi udara beracun efek dari senjata kimia. Untuk para syuhada berjuanglah karena ribuan prajurit langit bersamamu walu mereka tak Nampak tapi mereka sangat, doa-doamu saudaramu senantiasa hadir menemanimu dalam ruang pertarunganmu. Darah yang mengalir ditubuhmu ibaatanya<span> </span>aliran sungai surga yang menyejukkan kalbu dan menerangi kegelapanmu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Pencerahan dan kegelapan adalah suatu hal yang tak mampu dipisahkan namun mampu dibedakan, kini saatnya para pejuang kemanusiaan mengumandangkan doa untuk para syuhada di Bumi Palestina, mendoakan mereka untuk memenangkan perjuangan kebenaran. Dan mereka para ziones <span> </span>semoga mereka mendapakan pencerahan dari Tuhan maha pencipta dan maha kasih, dan hingga mereka menyadari bahwa daerah mereka adalah tempat kelahiran para manusia suci yang dinobatkan dari Tuhan supaya tidak lagi mengotorinya dengan darah dan air mata kesedihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Semua agama yang ada didunia entah itu Hardik ataupun Samawi<span> </span>mereka medambakan dan mengharapkan pencerahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=11&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/gitar-berdarah-lantai-jasad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/8/</link>
		<comments>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/8/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 11:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>domestifikasi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://domestifikasi.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[refleksikan kehidupanmu dengan memaknai jejak<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=8&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">Kader bunglon</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Setiap detik nafas senantiasa menemani dalam proses gerak manusia, jejak kaki adalah sebuah langkah menuju kealam kesadaran seiap makhluk, namun terkadang langkah itu terhenti karena kerasnya badai yang mesti dilalui. Pabila manusia berhasil melewati setiap terpaan badai, maka dia yang bakal terpilih menjadi manusia sempurna diantara manusia. Pengetahuan adalah bagai perahu untuk menapak samudera, pengetahuan itu datang tak diundang, pergi tak diantar ibaranya jelangkung. Pengetahuan juga diibaratkan binatang liar, jika binatang liar itu domestifkasi maka binatang tak liar lagi, begitu pun<span> </span>dengan pengetahuan dibutuhkan proses kebiasaan, kemudian menjadi pembiasaan dalam menacari jati jati diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Dari masa kemasa terjadi proses perkembangan, setiap makhluk pasti berevolusi untuk mampu beradaptasi dalam menggegam realitas. Namun yang terjadi untuk sekarang ini adalah noktah pembiasan pengetahuan. Mereka saat ini sangat sulit merunut puing-puing pengetahuan, yang kelak pengetahuan itu menjadi cerminan dia ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Hal itu mestinya disadari, karena merupakan badai besar dalam proses berlayar setiap insan, ketika telah ada pengetahuan tentang hal itu dibutuhkan spirit perjuangan <span> </span>tak mengenal bahasa usai dan lelah atau pun jenuh. Karena itu, suatu bagian kehidupan yang sangat subtansi dalam melangkah untuk mencapai cita dan cinta setiap insan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Spirit perjuangan kini telah memudar, semangat intelektual semakin jauh dari noktah yang ditempuh, entah ini adalah sebuah warisan masa lalu yang kemudian menjadikan manusia sekarang mengalami pengerdilan makna, sehingga sebuah gagasan cemerlang tentang kedamaian dan keseimbangan realitas makro dan<span> </span>mikro dapat tercipta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Manusia modern semakin menampakkan kekerdilan berpikir, ini adalah kado istemewa untuk kebodohan massif, mereka hanya menjadi piong-piong orang-orang cerdas, budak untuk sebuah Negara.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Kebodohan adalah ketidakmampuan untuk menjawab tantangan zaman, tidak mampu merasakan masa depan, sehingga ketika kebodohan berada dalam suatu Negara, maka akan terjadi kesenjangan social yang nantinya akan merusak suatu system social, moralitas, kebersamaan tidak ada lagi, hal ini <span> </span>disebabkan karena karena pendidikan dijadikan sebagai komoditi pasar, untuk mempertebal dompet segelintir orang, bahkan pendidikan bukan lagi subtansi kehidupan dalam bermasyarakat. masyarakat tanpa pengetahuan berarti mereka tak mengenal adab, tak mengenal adab berarti kriminalisasi, amoral akan terjadi, jika demikian maka kondisi suatu Negara akan merelakan semua potensi alamnya untuk negara lain, sehingga bangsa ini menjadi jatuh miskin dan menjadi pelacur murahan bagi Negara lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Pendidikan secara philosofi adalah memanusiakan manusia, atau kalau imam ali, r.a mengibaratkan bahwa ilmu adalah cahaya, semakin manusia mengejar ilmu maka manusia itu akan mendapatkan penerangan jalan untuk mencapai kesempurnaan. apakah hal ini tidak dipahami oleh<span> </span>pengambil kebijakan ?, ataukah mereka memahami akan tetapi mereka seolah-olah tidak mengerti akan hal itu ?, atau mereka mengerti namun pemikirannya hanya untuk mempertebal dompet mereka, demi mendapatkan kekayaan yang sifanya sementara??.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span> </span>Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang terdiri dari ribuan suku dan pulau-pulau yang bertebaran dari sabang sampai Marauke, namun kelak bangsa ini akan mengalami pergeseran budaya secara besar-besaran karena adanya pengaruh budaya dari bangsa lain yang berusaha untu menghllangkan budaya lokal yaitu scenario Globalisasi. Hal ini terjadi, dikarenakan pengetahuan mereka yang minim akan sebuah makna budaya bangsa.<span> </span>Juga pulau-pulau itu akan tenggelam karena efek dari global warming. Dalam hidup ini yang sangat subtansial <span> </span>adalah mengenal rahasia Kosmos, dan berusaha untuk menanamkan nilai-nilai kebudayaan local juga menyadari untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan kesadaran itu, maka bangsa ini akan mencapai welfarestate juga<span> </span>kemiskinan, kebodohan bukan lagi ancaman bangsa kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/domestifikasi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/domestifikasi.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=domestifikasi.wordpress.com&amp;blog=6964706&amp;post=8&amp;subd=domestifikasi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://domestifikasi.wordpress.com/2009/03/15/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60e77d92337dbd7a254fb921a6d266e8?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">domestifikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
