Mencari jejak
OLEH
MUH ILHAM YASIN
“ Demokrasi adalah polesan pemikiran kritis dari konsep madani, demokrasi ini bukan dari Eropa ”
Sejak tahun 1908-2008 kaum muda tidak pernah kehilangan jiwa progresif dan revolusiener mereka meremas realitas dengan kekuatan intelektualitas untuk melepas realitas tertindas.
kemerdekaan bangsa ini semakin dewasa, namun kedewasaan yang didapatkan hanyalah kedewasaan ketertindasan, hal ini saya anggap bukan subtansi dari potensi madani, Konsep madani yang pertama kali dibumikan oleh nabiullah Muhammad SAW dikota Yastrib yang sekarang menjadi kota Madina menjadi bahan referensi untuk mencari solusi kemslahatan ummat (NEGARA),
konsep madani adalah konsep yang paling ideal dalam hal kemsyarakatan,yang mengatur segala aturan berkenegaraan didalam konsep madani ini didalamnya termaktub Piagam Madina, piagam Madina kemudian menjabarkan konsep tersebut untuk memberikan pemahaman hidup secara plural, namun, seiring berjalannya hari, konsep madania secara terus-menerus mengalami pergeseran paradigma. banyak pemikir berusaha menafsirkan konsep itu dalam realtas, namun tak ada satu pun yang mampu menginterpretasikan kedalam ruang sosial saat ini, mulai dari pemikiran Sosrates, Plato, dan Aristoteles sampai John Locke, Montesqiueo, max weber dan para pemikir lainnya hanya hanya mampu memahami sebahagian dari konsep Madani atau dikenal civil society.
Sebenarnya konsep madani erat kaitannya dengan prisipil demokrasi sempurna dan sejati. Karena menurut Montesqiau bahwa syarat terbentuknya demokrasi ketika trias politika telah terpenuhi dan mewujud menjadi prinsip bernegara yang paling hakiki dalam bermasyrakat.
Prinsip demokrasi tidaklah lepas dengan adanya pengaruh ideologi-ideologi tertentu dalam satu wilayah sehingga sulit untuk mewujudkan civil society, karena dalam satu negara terdapat dua ideologi dunia yang tak henti-hentinya bertarung yaitu kapitalis dan sosialis. Di Indonesia pada awal tahun kemerdekaan 1945 Ir Soekarno mencoba menerapkan ideologi sosialis di Indonesia dengan mengeluarkan kebijakan Triskati Pembangunan salah satunya adalah Ekonomi Mandiri Yaitu pengelolaan hasil alam di tanggung oleh negara dan membuat proteksi terhadap negara lain.
Cita-cita ideal Presiden pertama tak kunjung terkabulkan dikarenakan para tuan-tuan pemilik modal ketakutan akan perusahaan mereka mengalami kerugian mereka bahkan membuat skenario kudeta untuk kejatuhkan kedudukan Soekarno, dan para pemilik modal memberikan kepercayaan pada kapten Suharto untuk mengambil alih kekuasaan sebagai pengambil kebjakan.
Awal runtuhnya bangunan Sukarno di Indonesia tahun 1955-1970 itu ditandai dengan terjadinya devaluasi dan inflasi sehingga harga barang dan bahan pokok membungbung tinggi mengakibatkan rakyat sulit memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penderitaan rakyat tak lagi dapat terbendung, negara tak dapat lagi mengatasi permasalahan rakyatnya maka yang terjadi kekacauan, pemerkosaan, pembunuhan dan perampokan terjadi dimana-mana. Wal hasil skenario perencanaan kudeta oleh kaum kapitalis berhasil diwujudkan mengakibatkan berakhirnya pemerintahan yang beranut sosialis juga hadirya pemerintahan baru yang dikenal order baru (develomentalis) yang menganut ideologi kapitalis. Tragedi bersejarah di Indonesia ditahun 1966 hampir menyerupai kejadian yang terjadi di Amerika yaitu kudeta pada tahun 1930-an presiden Amerika Franklin D.Roosevelt yang tidak berpihak pada pemilik modal. Saat itu Amerika mengalami krisis yang menyamai kondisi Indonesia, perekonomian dunia mengalami destabilasasi, teory tentang ekonomi liberal menurut Keynes digugurkan oleh teori baru arena teori tersebut tidak konteks dengan kondisi saat itu, maka untuk terbebas dari ancaman krisis tersebut presiden F.D Roosevelt mengeluarkan solusi dari krisis dunia dengan hadirnya kebijakan-kebijakan anti laissez-faire seperti :
1. Kontrol negara terhadap pelaku pasar
2. Regulasi negara terhadap kegiatan ekonomi
3. Membuat undang-undang anti penggabungan industri
4. Membuat peraturan pemerintah mengenai perlidungan buruh.
Dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Roosevelt ternyata terjadi ketidaksepakatan dengan Pemilik modal, padahal presiden AS hanya ingin mendirikan Welfar state (negara sejahtera) sebagai solusi dari krisis finansial global.
Hadirnya ideologi developmentalis yang diterapkan oleh Soeharto diawal pemerintahannya mengakibatkan kehancuran sistem di Indonesia sampai sekarang. Pembangunan terjadi dimana-mana dengan meminjam modal asing untuk kelancaran pembangunan. Investor terbuka lebar untuk menanamkan saham di Indonesia mulai dari Industri sampai Jasa, dari beberapa sektor, sekitar 85% yang ada dalam negeri dikuasai oleh investor asing dan sisanya 15 % saham milik Negara. Jatuhnya Suharto ditahun 1998 bukannya solusi malah menyisahkan hutang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia, bahkan calon bayi Indonesia sudah memiliki hutang akibat Hutang Luar Negeri (HLN) dari bantuan World Bank dan IMF.
Maka untuk keluar dari krisis yang melanda bangsa ini, kita harus kembali menanamkan kearifan lokal dan kemandirian lokal sebagai wujud kecintaan terhadap Indonesia. Demokrasi yang dianut oleh Eropa jauh sebelumnya sudah diterapkan oleh Indonesia, tapi kita melupakan nilai-nilai kebudayaan kita sendiri.
Sampai kapan kita terus berada dalam ruang keterpurukan??mari bangkit kawan kita kembali bercermin dari kejayaan kita masa lalu, kejayaan masa lalu ketika ditanamkan pada usia dini maka kelak bangsa kita menjadi welfare state atau civil society. Jepang pernah mengalami hal serupa dengan bangsa kita, sewaktu agenda 3G mulai dijalankan, maka kekaisaran Jepang melakukan proteksi barang yang masuk dinegaranya dan mengembangkan sektor pendidikan dan pertanian untuk kebutuhan dasar masyarakat Jepang.
Di Indonesia para petani dianggap miskin karena tidak sesuai dengan standarisai dari pemerintah juga standarisasi WTO. Para petani kita dijadikan sebagai masyarakat termarjinalkan dari bangsa kita. Belum lagi mengenai sistem pendidikan Indonesia yang luar biasa bobroknya, bahkan dijadikan komoditi dan alat hegemoni untuk mempertahankan kekuasaan (status quo).
Sistem pendidikan di Indonesia bukan lagi hak dasar bagi masyarakat Indonesia melainkan suatu sistem pembodohan, tujuan dari pendidikan adalah memerdekakan manusia, jadi hal paling dasar dari kehidupan adalah kemerdekaan. Namun kemerdakaan apa yang ada dibangsa kita??? Kemerdakaan atau ketertidasan???.
Untuk para pemuda yang gila, untuk para pemuda berjiwa malaikat, dan untuk para perempuan yang mendidik anaknya, juga ustad yang memberikan perncerahan, guru yang mengajarkan nilai untuk masa depan, profesor, pejabat saatnya kita merangkai jari-jemari membangun tembok persatuan menemukan kejati diri bangsa dan menjaga keharmonisan.

Negeri ini berada dalam kebingungan mencari jati diri. Negeri ini seperti seorang banci yang statusnya meragukan. Lihat saja sistem ekonomi kita yang setengah sosialis separo kapitalis, serta sistem pemerintahan yang presidentil tapi juga memakai pola parlementer.
Yang amat perlu dibenahi pertama adalah seluruh sistem yang menjadi dasar untuk menyelenggarakan negara ini, karena aparatur negara akan jadi baik bila sistemnya juga baik.
Salam dari tenggara pulau kalimantan, http://www.imiruryaputera.co.cc
Negeri ini seperti seorang banci yang statusnya meragukan : kata seorang meyatakan kata penggerak dalam sistem sosial, yang pantas adalah wilayah……
sebenarnya Indonesia secara budaya memang kita harus menyadari,bahwa nenek moyang bukan seorang seorang pelaut, melainkan seorang pecundang, yang lari dari sebuah masalah.. hingga ketemu juga, jadi masalah itu secara hakiki tidak dapat ditinggalkan karena dia akan mengikuti, apablia ditinggalkan maslah itu akan bertumpuk-tumpuk dan akan berakhir pada titik disrtorsi…pada tahun 879 SM di dataran Mongol dsitu eyang kita berada, namun wilayah itu diserang oleh prajurit kerajaan. mereka melarikan diri hingga sampai didataran yang sekarang ini untukcari mencari keselematan…….